Selasa, 22 Agustus 2017

MENGHINDARI TIGA PINTU NERAKA

OM SWASTYASTU, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah, (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah) Saudara pendengar umat Sedharma yang berbahagia, selamat pagi dan selamat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu. Puja dan puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena atas segala Asung Kerta Wara Nugraha-Nya kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk Berbagi ajaran Beliau, adapun topik kita pagi ini yaitu tentang “MENGHINDARI  TIGA PINTU NERAKA”.
Pendengar Sedharma yang saya Cintai,
Neraka itu bukan ada di dunia Niskala saja. Di dunia Sekalalah Neraka itu yang  paling dapat dirasakan oleh manusia yang hidup di dunia ini. Dalam Bhagawad  Gita Adyaya  XVI.21 dinayatakan ada tiga pintu Neraka yang akan membawa Sang Diri menjadi sengsara. Tiga pintu Neraka itu adalah Kama, Krodha dan Lobha.
Pendengar Sedharma,
Kama adalah pengumbaran hawa nafsu. Krodha artinya benci dan dendam. Lobha artinya malas tapi serakah. Orang yang hidupnya untuk bersenang-senang saja mengumbar hawa nafsunya (Kama) Krodha adalah hidup penuh kebencian dan dendam. Marah beda dengan benci dan dendam. Dalam Wrehaspati Tattwa benci dan dendam itu disebut Dwesa sebagai salah satu dari lima kekotoran rohani yang disebut Panca Klesa. Lobha hidup penuh keserakahan sampai memiskinkan orang lain, dan hidupnya penuh derita secara rohani yang disebut papa. Meskipun ia bergelimang harta, karena keserakahanya, ia tidak akan pernah puas. Buktinya banyak penguasa dan konglomerat yang menderita berbagai penyakit yang sulit disembuhkan dengan berbagai sistem pengobatan. Demikian juga orang yang membenci dan dendam dalam tubuhnya akan muncul hormon beracun semakin meningkat. Orang pembenci dan pendendam itu akan menyebarkan Vibrasi buruk kepada lingkungan sosial dimana ia berada. Apa lagi mereka yang kena dampak langsung dari kebencian dan dendam itu. 
Pendengar Sedharma,
Buta kalapun akan semakin mendapat lapangan kerja untuk menciptakan permusuhan di dalam masyarakat. Demikian juga keserakahan (Lobha) akan melahirkan kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ekonomi adalah sumber berbagai penyakit sosial, yang dapat menyengsarakan kehidupan orang banyak. Kolusi pejabat yang sering pendendam kepada orang-orang yang kritis, padanya dan keserakahan konglomerat yang membuat sirnanya keadilan ekonomi sudah cukup terbukti, menimbulkan penderitaan sosial. Masih banyaknya politisi berebut kekuasaan bukan untuk mengabdi, namun untuk merebut fasilitas hidup pribadi dan mengejar kekayaan untuk hidup berfoya-foya ditengah-tengah kemiskinan rakyat banyak. Karena itu Sloka Bhagawad Gita XVI.21 itu menujukan jalan spiritual kepada umat manusia, dalam kehidupanya sehari-hari  untuk menghindar dari tiga pintu neraka tersebut.
Pendengar Sedharma dimanapun Anda Berada,
Karena pengaruh Citta dan Klesa setiap manusia tidak dapat lepas dari pengaruh Sukha dan Duhkha. Bhagawad Gita II.15 mengajarkan kepada umat manusia agar membangun sikap hidup yang seimbang dan teguh menghadapi gelombang Sukha dan Dukha dengan cara menguatkan aspek spiritual diri yang tangguh. Sloka Bhagawad Gita menyatakan :Sama duhkham sukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Setiap saat manusia selalu akan  mengalami keadaan Sukha dan Dukha silih berganti setiap hari.
Pendengar Sedharma,
Tidak ada manusia dalam hidupnya sehari-hari hanya dirundung oleh Dukha saja atau oleh Sukha saja. Orang akan hidup tenang kalau memiliki kemampuan atau ketangguhan untuk tidak terlalu terpengaruh pada gelombang Sukha dan Dukha itu. Orang harus Sama dan Dira menghadapi Sukha dan Dukha. Sama artinya seimbang  tidak begitu membedakan antara menerima kedukaan maupun kesukaan. Dira artinya tangguh, tak mudah tergoyahkan oleh keadaan Sukha maupun Dukha. Hal ini akan dapat tumbuh dalam diri, apa bila  seseorang sudah sangat mantap keyakinanya akan Hukum Karma Phala. Kalau Sukha yang diterima sebagai pahala dari perbuatan baik yang pernah dilakukan. Kalau Dukha yang diterima mereka yakin bahwa Dukha tersebut terjadi karena pernah berbuat kesalahan. Dukha itu sebagai proses penyucian atau pengambilan Asubha Karma yang pernah diperbuat oleh seseorang.
Pendengar Sedharma yang berbahagia,
Pandangan itu akan membuat orang tidak mudah frustasi kalau menerima keadaan Dukha, karena memanglah pantas kena Dukha karena melakukan Asubha Karma sebelumya. Terimalah hal itu dengan kebesaran jiwa sebagai proses penyucian diri.
Pendengar Sedharma,
Dalam kitab Bhagawad Gita XIII.8 menyatakan ada delapan hal yang harus direnungkan setiap hari dalam hidup ini. Kalau delapan hal itu berhasil direnungkan setiap hari, maka akan muncul kewaspadaan yang tinggi agar seseroang selalu dapat berlaku mulia sesuai dengan Dharma setiap hari. Adapun delapan hal, antara lain, Janma: artinya lahir ke dunia. Kelahiran ke dunia ini sebagai kesempatan untuk memprbaiki Karma-karma masa lampau agar menjadi lebih baik.Janganlah menyia-nyiakan kesempatan lahir kedunia ini. Mrtyu: artinya mati. Orang yang pernah lahir kedunia ini pasti akan  mati. Kapan kita mati hanya Tuhan yang Maha Tahu. Karena kita tidak tahu kapan kita mati maka renungkanlah hal itu. Berbhaktilah kepada Tuhan dan berbuatlah sebaik-baiknya. Vyaadhi artinya sakit. Karena manusia dibangun oleh unsur Purusa dan Predana maka manusia tidak dapat hidup sempurna. Salah satu ketidak sempurnaan manusia dalah ia dapat sakit. Jara artinya umur tua. Tidak ada manusia hidup di dunia ini langgeng secara fisik. Karena itu renungkanlah selalu kalau masa tua itu sudah datang. Kalau sudah tua janganlah sampai segala sesuatu merasa terlambat karena kurang dipersiapkan saat masih muda.
Duhkha artinya kesedihan. Senang dan sedih selalu silih berganti datang mengunjungi manusia. Renungkanlah setiap langkah dalam hidup ini agar jangan mudah mendatngkan kedukaan. Dosa, Dalam hidup ini yang juga harus direnungkan setiap melangkah adalah perbuatan dosa. Manusia setiap hari akan dintai oleh dosa. Hati-hatilah jangan sampai terus terpeleset pada perbuatan dosa. Dosa itu dapat dilakukan oleh orang miskin maupun orang kaya. Ada orang terpaksa berbuat dosa karena diimpit oleh kemiskinan. Pada hal banyak jalan  untuk menghindar dari perbuatan dosa meskipun diimpit oleh kemiskinan.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Demikian makna daripada alam yang merupakan rumah kita, baik manusia, tumbuhan dan hewan, semoga ini semua dapat memotivasi kita semua untuk terus menjaga alam lingkungan kita dalam kehidupan kita ini. Akhir kata,,,,,,,,
Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu
“Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH SANTIH  SANTIH  OM

BAGAWADGITA PENUNTUN KEHIDUPAN

Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru), Pendengar sedharma yang berbahagia, Puja dan Puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa), karena Atas segala Asung kerta wara nugrahaNya yang telah Beliau limpahkan kepada kita semua, sehingga dalam kesempatan ini kita dapat berjumpa kembali pada acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun topik Renungan kita malam ini adalah tentang “BHABGWAD GITA PENUNTUN KEHIDUPAN”.

Pendengar Sedharma dimanapun berada,
Manusia pada jaman Kali ini sering dibingungkan oleh hiruk pikuknya dunia modern. Bagaikan Arjuna dibingungkan oleh pristiwa perang Brata Yudha yang dihadapinya. Arjuna menganggap perang itu untuk merebut tahta Kerajaan. Pada hal, perang itu adalah untuk menegakan kebenaran dan melenyapkan kejahatan. Bagi mereka yang sudah memahami  hakekat  ajaran  suci Weda dengan Bhagawad Gita sebagai intisarinya, maka kebingungan itu tahap demi tahap akan menghilang. Setelah itu munculah ketenangan lahir batin. Salah satu fungsi Agama adalah mendapatkan sikap hidup yang terang, tentu dan pasti dalam hidup ini mendapatkan ketenangan lahir batin. Berbagai tuntunan spiritual dalam menjalankan hidup ini agar mendapatkan kehidupan  lahir batin yang utuh, terpadu sangat komplit, terdapat dalam kitab suci Bhagawad Gita. Sebagai Sumber Daya Manusia yang berkualitas, harus memiliki setidak-tidaknya tiga hal, yaitu sehat secara jasmani, tenang dan damai secara rohani dan profesional. Tiga hal ini saling kait mengkait  membangun kekuatan manusia sebagai sumber daya pembangunan, untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtra lahir batin. Bhagawad Gita kalau  benar-benar didalami secara baik, benar dan tepat  manusia akan mendapatkan tiga syarat tersebut.
Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
Yoga sering sekali dihubungkan dengan hal-hal yang seram-seram saja. Yoga pada hakekatnya adalah jalan menuju jalan Tuhan, melalui jalan di dunia ini. Menempuh jalan Tuhan bukanlah berarti melupakan hidup keduniaan. Justru hidup di dunia ini harus dituntun dengan daya spiritual yang menguatkan kecerdasan intelektual dan kesejukan emosinal sehingga dunia ini menjadi media untuk menuju kehidupan yang sejahtra lahir batin. Kehidupan spiritual itu adalah hidup yang mengupayakan kesucian roh (Atman) menjadi kekuatan suci yang menguasai seluruh sistim hidup.
Pendengar Sedharma,
Sistem hidup itu ada yang menyangkut sistem hidup individual maupun sistim hidup sosial yang berlandaskan Sradha dan Bhakti pada Tuhan. Jalan Yoga disini artinya jalan persatuan yang totallitas dinamis menuju keharmonisan  yang proporsional. Persatuan kepada alam lingkungan dimana manusia harus mengabdikan hidupnya untuk melindungi kesejahtraan alam lingkungan (Bhuta Hita) dengan penuh kasih sayang agar alam selalu dapat menjadi sumber kehidupan umat manusia. Persatuan dengan sesama umat manusia melalui hidup untuk saling mengabdi dengan landasan keadilan. Persatuan dengan Tuhan, artinya manusia melakukan upaya untuk tahap demi tahap melakukan langkah-langkah menuju jalan Tuhan.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Dalam Bhagawad Gita III.10 disebutkan bahwa, hubungan timbal balik antara Manusia (Praja) dengan  Tuhan sebagai Raja Alam Semesta (Praja Pati), anatara manusia dengan sesama manusia, antara manusia dengan alam lingkunganya (Kamadhuk) yang didasarkan pada Yadnya. Hubungan yang harmonis antara Prajaati (Tuhan) dengan Praja dengan bhakti, hubungan yang harmonis antara Praja dengan Praja atau antara manusia dengan manusia berdasarkan punia, dan hubungan yang harmonis antara Praja (manusia) dengan alam lingkungannya (Kamadhuk) inilah yang sumber Tattwa dari ajaran Tri Hita Karana.
Pendengar Sedharma,
Yadnya sebagai dasar hubungan antara Prajapati, Praja dan Kamadhuk itu adalah suatu keikhlasan berkorban demi tujuan yang mulia dan suci. Yadnya itu lahir dari kerja (Bhagawad Gita III,14). Kerja (Karma) yang berdasarkan Yadnya itu adalah kerja yang dilakukan dengan Jnyana dan untuk persembahan kepada Tuhan (Bhakti). Jnyana itu adalah kesadaran rohani melalui pemahaman akan pengetahuan suci. Jadinya Jnyana, Karma dan Bhakti itu adalah jalan Yoga. Katiga jalan ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Swami Satya Narayana menyatakan Jnyana, Karma dan Bhakti itu ibarat gula batu. Sulit memisah-misahkan antara bentuk, berat dan rasa dari gula batu tersebut. Jnyana tanpa Karma tidak akan sempurna. Demikian juga Jnyana dan Karma tanpa Bhakti juga akan sia-sia. Jnyana, karma dan Bhakti itu saling lengkap melengkapi.
Pendengar Umat Sedharma yang saya banggakan,
Barang siapa dalam hidupnya sehari-hari tidak ikut memutar Cakra Yadnya yang sifatnya timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya (Bhagawad Gita III.16). Ini artinya barang siapa yang hanya memikirkan hidup untuk dirinya sendiri saja tanpa memperhatikan hidup pihak lain, ia sesungguhnya telah berbuat kejahatan. Hidup seperti itu adalah hidup yang sia-sia saja adanya. Misalnya orang hanya mengambil sumber-suber alam, tetapi tidak pernah mengembalikan kelestarian alam itu. Demikian juga ada pengusaha yang memeras tenaga buruh untuk keuntunganya. Tetapi tidak pernah memperhatikan nasib buruh itu sendiri. Dalam Bhagawad Gita IV.33 ada dinyatkan bahwa Jnyana Yadnya adalah yadnya yang aling agung dari pada Yadnya yang lainya. Jnyana Yadnya itu adalah beryadnya dengan ilmu pengetahuan.      
Pendengar Sedharma,
Hubungan yang timbal balik antara Prajapati (Tuhan) dengan Praja (manusia) dan Kamadhk (alam) inilah di populerkan dengan Tri Hita Karana. Tiga penyebab lahirnya kebahagiaan. Karena itu dalam kehidupan kita sehari-hari lakukan kegiatan untuk Bhakti pada Tuhan. Dari Bhakti kepada Tuhan itu kita mendapatkan kekuatan suci. Kekuatan suci itu dijadikan dasar untuk memelihara alam lingkungan dengan penuh kasih sayang (Yadnya) dan mengabdi kepada sesama manusia sesuai dengan Swadharma masing-masing. Setiap manusia yang lahir kedunia ini menurut kitab Vatsyayana Dharmasastra memiliki Swadharmanya sendiri-sendiri. Swadharma itu ada yang berdasarkan Asrama Dharma, Varna Dharma, Guna Dharma dan Sadarana Dharma. Swadharma Brahmacari (tahap hidup belajar) berbeda dengan Swadharma Grhasta (tahap hidup berumah tangga). Demikian juga dengan Wanaprasta (tahap memasuki masa pensiun) maupun Sanyasin Asarma (tahap hidup melepaskan dari dunia ini). Swadharma Brahmana Varna berbeda dengan Ksatria, Waisya dan Sudra Varna. Guna Dharma mengabdi sesuai dengan keahlian khusus yang dimiliki seseorang. Sedangkan Sadarana Dharma adalah kewajiban mengabdi kepada kepentingan-kepentingan umum. Kalau semua orang mengabdi sesuai dengan Swadharmanya masing-masing, maka proses hidup ini akan terjadi pengabdian yang timbal balik secara sinergis. Karena semua Swadharma itu sifatnya saling lengkap melengkapi.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Itulah arti dari pada gengsi dan fungsi, sehingga dengan demikian kita dapat menempatkan diri kita sebagaimana mestinya, dan semoga kiranya hal ini bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya. Akhir kata;
Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
.

AGAMA SEBAGAI DIMENSI KEHIDUPAN

Om Swastyastu, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah) Saudara pendengar umat Sedharma yang berbahagia, selamat pagi dan selamat berjumpa kembali dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu RRI Nabire. Pertama  tama marilah kita hatur Puja dan puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang  Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa), atas segala Asung Kerta Wara Nugraha-Nya, kita dapat berjumpa dalam Acara ini. Adapun tema pagi ini adalah “AGAMA SEBAGAI DIMENSI KEHIDUPAN” .

Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. Aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia. Sehingga timbul pertanyaan, sejauh mana fungsi lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu sistem, dan sejauh manakah agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsi.

Pendengar Sedharma yang saya banggakan,
Teori fungsi memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang seimbang. Menusia mementaskan dan memolakan kegiatannya menurut norma yang berlaku umum, peranan serta statusnya. Lembaga yang demikian kompleks ini secara keseluruhan merupakan sistem sosial, dinamis setiap unsur dari kelembagaan itu saling tergantung dan menentukan semua unsur lainnya. Dan akhirnya mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan. Dalam pengertian lembaga sosial yang demikian, maka agama merupakan salah satu bentuk prilaku manusia yang telah terlembaga.

Saudara Pendengar Umat sedharma di manpun anda berada,
Teori fungsional dalam melihat kebudayaan adalah, bahwa kebudayaan itu terwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gahasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sistem sosial yang terdiri dari aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain.

Saudara Pendengar Umat Sedharma,
Manusia yang berbudaya menganut berbagai nilai, gagasan dan orientasi yang berpola mempengaruhi prilaku, bertindak dalam konteks terlembaga, dimana perannya dipaksakan oleh sangsi positif dan negatif, memolakan penampilannya, tetapi yang bertindak, berpikir dan merasa adalah individu.
Pedengar sedharma,
Pertanyaannya? Bagaimana masalah fungsional dalam teori fungsional kepribadian, dan sejauh mana agama mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya. Kepribadian sudah terpola melalui proses belajar dan atas otonominya sendiri. Sebagai ilustrasi sistem kepribadian adalah Id, Ego, dan Superego yang ada dalam situasi yang terstruktur secara sosial. Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial yang demikian dalam terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, dan termasuk konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan nilai  nilai duniawi. Tetapi tidak mengutik hakikat apa yang ada diluar atau referensi transendental.
Pendengar Umat Sedharma yang saya banggakan,
Kesanggupan manusia untuk mengembalikan dan mempengaruhi kehidupannya terbatas dan ketidak berdayaan. Manusia hidup bermasyarakat dimana ada alokasi yang teratur dari berbagai fungsi fasilitas dan ganjaran. Jadi seseorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidak pastian, ketidak berdayaan, dan kelangkaan. Agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur  unsur tersebut. Sumbangan agama terhadap pemeliharaan masyarakat adalah memenuhi sebagian diantara kebutuhan masyarakat.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanyapun dikukuhkan dengan sangsi-sangsi sakral. Dalam setiap masyarakat sangsi sakral mempunyai kekuatan memaksa istimewa, karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supra manusiawi. Fungsi agama dibidang sosial adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun di dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Di lain sisi, fungsi agama sebagai sosialisasi individu adalah individu pada saat ia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntutan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.
Saudara pendengar umat Sedharma yang berbahagia,
Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis dengan mudah pada komitmen agama, menurut ROLAN ROBERTSON dimensi komitmen agama dikalsifikasikan antara lain:
Pertama, Dimensi keyakinan mengandung perkiraan/harapan bahwa orang yang religius akan mengandung pandangan Teologis tertentu bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran agama.
2, Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti. Ini berkaitan dengan upacara keagamaan, perbuatan religius formal dan perbuatan mulia. 3, Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada sewaktu-waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung tentang realitas tertinggi maupun berhubungan meskipun singkat suatu perantara yang supranatural. 4, Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan dari kitab suci, dan tradisi keagamaan.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan kempat dimensi. Dimensi ini mengidentifikasi pengaruh-pengaruh kepercayaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan keagamaan di dalam kehidupan sehari-hari.
Kaitan agama dan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh :
Pendengar sedharma yang saya banggakan,
Demikian yang dapat saya sampaikan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua demi terlaksananya kedamaian dan ketentraman di muka bumi ini.
Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu”
“Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH SANTIH  SANTIH  OM

Sabtu, 30 Agustus 2014

soal agama Hindu

Soal Ujian Sekolah tahun pelajaran 2011/2012
Mata pelajaran           ; Pendidikan Agama Hindu.
Sekolah                        : SMK NEGERI I NABIRE
Jurusan                        : Semua jurusan
Hari/tanggal               : Rabu, 29 februari 2012
Waktu                          : …………..
Berilah tanda silang (X) pada jawaban A, B. C. D, dan E yang dianggap  paling benar.
1.      Pada mulanya Agama Hindu disebut  dengan nama…..
A.      Hindu Dharma                                    C.   Sanatana Dharma                         E.  Agama Tirta
B.      Dresta Dharma                       D.   Anandi-Ananta
2.      Penduduk Asli India sebagai pendukung peradaban yang berkembang pada zaman Veda berasal dari suku bangsa…..
A.      Arya                                         C.   Asia                                               E.   Dravida
B.      Portugis                                   D.   Kaharingan
3.      Dewa – dewa yang dipuja pada Zaman Veda salah satu diantaranya………….
A.      Brahma                                   C.   Siwa                                              E.   Indra
B.      Wisnu                                      D.   Sangkara
4.      Para pemimpin hendaknya memiliki wawasan  yang luas, sanggup mengatasi gejolak dengan arif dan bijaksana, hal ini tercermin dalam……………
A.      Catur Kotamaning Prabhu      C.   Catur Kotamaning Nrpati             E.   Wibawa
B.      Tri Upaya sandhi                     D.   Asia Brata
5.      Umat Hindu harus selalu mentaati peraturan yang dikeluarkan Pemerintah demi terwujudnya ocial yang aman, tentram, dan damai, hal ini adalah sebagai bhakti kepada……
A.      Guru Swadhyaya                     C.   Guru Swadaya                               E.  Guru Wisesa
B.      Guru Pengajian                       D.   Guru Rupaka
6.      Seorang pemimpin memiliki kekuatan ocial, daya tarik dan wibawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain sehingga ia mempunyai pengikut yang besar jumlahnya , hal ini termasuk dalam tipe pemimpin…..
A.      Tipe Paternalist                       C.  Tipe Otokrasi                                 E.   Tipe Maternalistis
B.      Tipe Militeristis                       D.  Tipe Karismatik
7.      Daun, bunga,buah dan air adalah sarana yang paling sering dipergunakan dalam persembahyangan petunjuk ini tertuang dalam kitab…………..
A.      Sarascamuscaya, 59               C.   Slokantara                       E.  Manawa Dharma Sastra,i.23
B.      Bhagawadgita, IX.26               D.   Bhagawadgita, IV.24
8.      Sesaat sebelum sembahyang umat mengasapi tangannya dengan asap dupa, fungsi api dupa yang demikian adalah sebagai ocial………………..
A.      Penyucian Pikiran                   C.   Penyucian Bunga                         E.  Pembersihan badan
B.      Penyatuan badan                    D.   Pembersihan tangan
9.      Umat Hindu wajib melaksanakan persembahyangan………………sehari
A.      5 kali                                       C.  1 kali                                              E.  7 kali
B.      3 kali                                       D.  2 kali

10.  Hari suci Agama Hindu disebut dengan istilah……………..
A.      Odalan                                    C.   Pujawali                                        E.  Hari Penting
B.      Hari Besar                               D.   Rerahinan
11.  Hari Suci dibawah ini yang dilaksanakan dalam kurun waktu 15 hari sekali adalah…..
A.      Anggara kasih                         C.  Galungan                                       E.   Saraswati
B.      Budha Wage                           D.   Purnama
12.  Redite Paing wuku Sinta disebut juga………………
A.      Banyu Pinaruh                         C.   Pegatwakan                                  E.   Sabuh Mas
B.      Ulihan                                      D.   Pagerwesi
13.  Dalam ajaran agama Hindu, tujuan hidup manusia da empat yang disebut….
A.      Catur Marga                           C.  Catur Prawerti                               E.  Catur Warga
B.      Catur Dharma                         D.  Catur Yoga
14.  Tujuan agama adalah sejahtera didunia dan bahagia diakhirat, bahagia diakhirat juga disebut…..
A.      Sadhanam       B.  Surga          C.  Neraka       D.  Jagadhita   E.  Moksartham
15.  Atma seseorang akan reinkarnasi menjadi manusia apabila kekuatan dari Triguna adalah
A.      Satwam Paling besar              D.  Rajas dan satwam sama kuatnya
B.      Rajas yang paling dominan    E.  satwam,rajas,tamas seimbang
C.      tamas paling unggul
16.  Pada jaman Bali kuno tidak diketemukan kata Pura, namun untuk menyebutkan tempat suci dipergunakan istilah……..
A.      Parhyangan                             C.  Hyang                                 E.  Ulon
B.      Kahyangan                              D.  Merajan
17.  Padmasana adalah bangunan yang dipergunakan untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud beliau yang tunggal. Yang memprakarsai untuk membuat bangunan Padmasana adalah……………………
A.      Rsi Markandeya                      C.  Mpu Kuturan                      E.  Dang Hyang Niratha
B.      Mpu Sangkul Putih                  D.  Mpu Baradah
18.  Untuk melestarikan keberadaan tempat suci adalah dengan membangun dan merawat tempat suci sebagaimana mestinya. Perbuatan ini tergolong….
A.      Dewa Yadnya                          C.  Rsi yadnya                          E.  Pitra Yadnya
B.      Bhuta Yadnya                          D.  Manusa Yadnya
19.  Atma adalah percikan terkecil dari Hyang Widhi. Sebagai sumber atma, Hyang Widhi disebut….
A.      Sang Hyang Pasupati              C.  Sang Hyang Paramatma    E. Sang Hyang Paramawisesa
B.      Sang Hyang Yamadipati          D.  Sang Hyang Paramakawi

20.  Roh yang telah mencapai keadaan yang benar-benar telah manunggal dengan Hyang Widhi (Purna Mukti) dapat dinyatakan Aham Brahman Asmi yang artinya
A.      Aku berbahagia abadi             C.  Aku adalah Tuhan                          E.  Aku sempurna
B.      Aku sejahtera                          D.  Aku damai
21.  Kata Karma berasal dari bahasa….
A.      Jawa Kuno                               C.   Sansekerta                                                E.  Bali
B.      Jawa Timur                             D.   Dewa Nagari
22.  Hasil perbuatan yang kita nikmati pada kehidupan sekarang disebut….
A.      Sancita karmapala                  C.  Karmapala                                     E.  Pralaya karmapala
B.      Prarabda karmapala               D.  Kriyamana karmapala
23.  Kelahiran yang berulang-ulang disebut…………….
A.      Karma wasana                                    C.   Atma Tattwa                                 E.   Jiwatman
B.      Punarbhawa                            D.   Yadna Sesa

24.  Bhuwana Agung disebut juga dengan istilah…
A.      Bhuwana Alit                           C.  Jiwatman                                       E.  Badan wadag
B.      Mikro kosmos                         D.  Makrokosmos
25.  Berikut ini merupakan unsure-unsur dari bhuwana agung, kecuali……
A.      Tapa                                        C.  Manah                                           E.  Asididam
B.      Purusa                                     D.  Budhi
26.  Dibawah ini yang termasuk kelompok Eka Pramana adalah
A.      Jatma                                      C.  Manah                                           E.  Jarayudha
B.      Gulma                                     D.  Andaya
27.  Seorang pemimpin harus memiliki sifat…………….
A.      Satya laksana                          C.  swedaya laksana                            E.  Jarayudha
B.      Jatma laksana                         D.  Andaya laksana
28.  Tugas dan wewenang seorang pemimpin yang mesti dilaksanakan dalam kepemimpinannya antara lain….
A.      Planing                                                C.   Playing                                          E.   Akting
B.      Opening                                  D.   organizing
29.  Panca Dasa Pramiteng Prabhu tertuang dalam kitab…………..
A.      Sutasoma                                C.   Tri pitaka                                      E.   Sarasamuscaya
B.      Negara Kertagama                 D.   Bhagavadgita
30.  Dharmagita dapat membentuk pribadi yang memiliki…………………..
A.      Iri hati                                     C.  Kasih ocial                                    E.   sifat pemabuk
B.      Kedengkian                             D.  Sifat pemarah
31.  Dibawah ini yang tergolong sekar madya adalah……………..
A.      Kidung Brahma Ngisep Sari                D.  Kekawin Baratha Yudha
B.      Kekawin Ramayana                            E.   Kekawin Arjuna Wiwaha
C.      Kidung wirama Swandewi
32.  Berikut yang tidak termasuk sekar agung adalah…………….
A.      Kidung Brahma Ngisep Sari                D.  Kekawin Baratha Yudha
B.      Kekawin Ramayana                            E.   Kekawin Arjuna Wiwaha
C.      Kidung wirama Swandewi
33.  Perbuatan yang dilakukan dengan penuh keiklasan dan kesadaran disebut……………..
A.      Karya               B.  Yajna          C.   Sreya         D.  Budhi         E.   Bhakti
34.  Hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa harus dibayar dengan………………
A.      Pitara Yajna                            C.  Manusa Yajna                                E.  Pitra Yajna
B.      Rsi yajna                                  D.  Dewa Yajna
35.  Yajna dalam bentuk pengetahuan disebut……………
A.      Yajna sesa                               C.  Mesaiban                                       E.  Sombah
B.      Jnana Yajna                             D.  Ngejot
36.  Untuk menjaga hubungan harmonis maka hindarilah kata-kata kasar terhadap ocial. Berkata kasar disebut………..
A.      Raja Pisuna                             C.  Wak purusa                                    E.  nitya wacana
B.      Wacika                                                D.  Ujar aprgas
37.  Pikiran yang paling menentukan kualitas prilaku manusia, sehingga pikiran harus selalu disucikan. Seperti yang tertulis dalam kitab……….
A.      Manawa Dharmasastra V.109                        D.  Manawa Dharmasastra VI.110
B.      Manawa Dharmasastra V.110                        E.  Manawa Dharmasastra  VI.111
C.      Manawa Dharmasastra VI.109


38.  Sifat dan sikap yang selalu memupuk kasih ocial terhadap semua mahluk ciptaan Tuhan disebut………………
A.      MaĆ®tri              B.  Karuna       C.   Mudita      D.   Upeksa      E.  Parartha
39.  Kitab Rg Weda Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum dalam bentuk………….
A.      Gayatri                        B.   Gita           C.  Pujaan        D.  Kidung        E.  Wacana
40.  Yajur Weda terbagi atas ……………………..
A.      5 Aliran           B.  4 aliran      C.  3 aliran      D.  2 aliran      E.  1 aliran
41.  Tingkatan Moksa yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidup adalah………………
A.      Salokya            B.  Sayujya       C.  Purna mukti           D. Wideha mukti         E. Jiwa mukti
42.  Pranayama atau mengatur pernafasan sehingga menjadi sempurna melalui 3 jalan yaitu Puraka, Kumbhaka, Recaka.
Puraka berarti…………………
A.      Meng hembuskan nafas         D.  Menghembuskan nafas lewat hidung
B.      Menarik nafas                         E.  Menahan nafas diperut
C.      Menahan nafas
43.  Jenis-jenis seni dibawah ini yang tidak menyertai pelaksanaan yajna adalah…………….
A.      Seni olah raga                         C.  Seni tabuh                          E. Seni suara
B.      Seni Tari                                  D.  Seni Bangunan
44.  Dibawah ini yang merupakan contoh seni tari adalah…………………….
A.      Sekar Alit                                 C. Legong                                E. Pejangeran
B.      Pengambuhan                         D. Semar Pegulingan
45.  Individu atau golongan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang kerohanian disebut………….
A.      Ksatria             B.  Brahmana              C.  Waisya       D.  Sudra         E.  Wesayasoal agama Hindu
46.  Bagian-bagian dari Catur Asrama ditulis dalam kitab………………..
A.      Slokantara 8                            C.  Brahma Kanda 8                E.  Bhagavadgita,IV.8
B.      Sarasamuscaya,8                    D.  Silakrama 8
47.  Undang – undang yang mengatur tentang perkawinan adalah………………..
A.      UU no.9 Tahun 1975               C.  UU no.5 Tahun 1974          E.  UU no,1 Tahun 1974
B.      UU no.7 Tahun 1975               D. UU no.3 Tahun 1975
48.  Tujuan umat hindu melaksanakan Wiwaha adalah untuk……………..
A.      Mencari pengikut                               D.  Melanjutkan keturunan
B.      Melanjutkan tradisi leluhur                E.  Mencari harta
C.      Meningkatkan tingkat ocial
49.  Bentuk hukum Tuhan yang murni dalam ajaran agama Hindu disebut……………….
A.      Rta       B.  Rtam          C. A rta                        D.  Darta         E.  Kala
50.  Kitab Manawa Dharmasastra adalah hasil karya dari…………….
A.      Samkhalikhita          B.  Parasara         C.   Mitaksara                D.  Manu    E.  Gautama
 


“ OM AVIGHNAM ASTU NAMO SIDDAM”