OM SWASTYASTU, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah, (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah) Saudara pendengar umat Sedharma yang berbahagia, selamat pagi dan selamat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu. Puja dan puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena atas segala Asung Kerta Wara Nugraha-Nya kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk Berbagi ajaran Beliau, adapun topik kita pagi ini yaitu tentang “MENGHINDARI TIGA PINTU NERAKA”.
Pendengar Sedharma yang saya Cintai,
Neraka itu bukan ada di dunia Niskala saja. Di dunia Sekalalah Neraka itu yang paling dapat dirasakan oleh manusia yang hidup di dunia ini. Dalam Bhagawad Gita Adyaya XVI.21 dinayatakan ada tiga pintu Neraka yang akan membawa Sang Diri menjadi sengsara. Tiga pintu Neraka itu adalah Kama, Krodha dan Lobha.
Pendengar Sedharma,
Kama adalah pengumbaran hawa nafsu. Krodha artinya benci dan dendam. Lobha artinya malas tapi serakah. Orang yang hidupnya untuk bersenang-senang saja mengumbar hawa nafsunya (Kama) Krodha adalah hidup penuh kebencian dan dendam. Marah beda dengan benci dan dendam. Dalam Wrehaspati Tattwa benci dan dendam itu disebut Dwesa sebagai salah satu dari lima kekotoran rohani yang disebut Panca Klesa. Lobha hidup penuh keserakahan sampai memiskinkan orang lain, dan hidupnya penuh derita secara rohani yang disebut papa. Meskipun ia bergelimang harta, karena keserakahanya, ia tidak akan pernah puas. Buktinya banyak penguasa dan konglomerat yang menderita berbagai penyakit yang sulit disembuhkan dengan berbagai sistem pengobatan. Demikian juga orang yang membenci dan dendam dalam tubuhnya akan muncul hormon beracun semakin meningkat. Orang pembenci dan pendendam itu akan menyebarkan Vibrasi buruk kepada lingkungan sosial dimana ia berada. Apa lagi mereka yang kena dampak langsung dari kebencian dan dendam itu.
Pendengar Sedharma,
Buta kalapun akan semakin mendapat lapangan kerja untuk menciptakan permusuhan di dalam masyarakat. Demikian juga keserakahan (Lobha) akan melahirkan kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ekonomi adalah sumber berbagai penyakit sosial, yang dapat menyengsarakan kehidupan orang banyak. Kolusi pejabat yang sering pendendam kepada orang-orang yang kritis, padanya dan keserakahan konglomerat yang membuat sirnanya keadilan ekonomi sudah cukup terbukti, menimbulkan penderitaan sosial. Masih banyaknya politisi berebut kekuasaan bukan untuk mengabdi, namun untuk merebut fasilitas hidup pribadi dan mengejar kekayaan untuk hidup berfoya-foya ditengah-tengah kemiskinan rakyat banyak. Karena itu Sloka Bhagawad Gita XVI.21 itu menujukan jalan spiritual kepada umat manusia, dalam kehidupanya sehari-hari untuk menghindar dari tiga pintu neraka tersebut.
Pendengar Sedharma dimanapun Anda Berada,
Karena pengaruh Citta dan Klesa setiap manusia tidak dapat lepas dari pengaruh Sukha dan Duhkha. Bhagawad Gita II.15 mengajarkan kepada umat manusia agar membangun sikap hidup yang seimbang dan teguh menghadapi gelombang Sukha dan Dukha dengan cara menguatkan aspek spiritual diri yang tangguh. Sloka Bhagawad Gita menyatakan :Sama duhkham sukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Setiap saat manusia selalu akan mengalami keadaan Sukha dan Dukha silih berganti setiap hari.
Pendengar Sedharma,
Tidak ada manusia dalam hidupnya sehari-hari hanya dirundung oleh Dukha saja atau oleh Sukha saja. Orang akan hidup tenang kalau memiliki kemampuan atau ketangguhan untuk tidak terlalu terpengaruh pada gelombang Sukha dan Dukha itu. Orang harus Sama dan Dira menghadapi Sukha dan Dukha. Sama artinya seimbang tidak begitu membedakan antara menerima kedukaan maupun kesukaan. Dira artinya tangguh, tak mudah tergoyahkan oleh keadaan Sukha maupun Dukha. Hal ini akan dapat tumbuh dalam diri, apa bila seseorang sudah sangat mantap keyakinanya akan Hukum Karma Phala. Kalau Sukha yang diterima sebagai pahala dari perbuatan baik yang pernah dilakukan. Kalau Dukha yang diterima mereka yakin bahwa Dukha tersebut terjadi karena pernah berbuat kesalahan. Dukha itu sebagai proses penyucian atau pengambilan Asubha Karma yang pernah diperbuat oleh seseorang.
Pendengar Sedharma yang berbahagia,
Pandangan itu akan membuat orang tidak mudah frustasi kalau menerima keadaan Dukha, karena memanglah pantas kena Dukha karena melakukan Asubha Karma sebelumya. Terimalah hal itu dengan kebesaran jiwa sebagai proses penyucian diri.
Pendengar Sedharma,
Dalam kitab Bhagawad Gita XIII.8 menyatakan ada delapan hal yang harus direnungkan setiap hari dalam hidup ini. Kalau delapan hal itu berhasil direnungkan setiap hari, maka akan muncul kewaspadaan yang tinggi agar seseroang selalu dapat berlaku mulia sesuai dengan Dharma setiap hari. Adapun delapan hal, antara lain, Janma: artinya lahir ke dunia. Kelahiran ke dunia ini sebagai kesempatan untuk memprbaiki Karma-karma masa lampau agar menjadi lebih baik.Janganlah menyia-nyiakan kesempatan lahir kedunia ini. Mrtyu: artinya mati. Orang yang pernah lahir kedunia ini pasti akan mati. Kapan kita mati hanya Tuhan yang Maha Tahu. Karena kita tidak tahu kapan kita mati maka renungkanlah hal itu. Berbhaktilah kepada Tuhan dan berbuatlah sebaik-baiknya. Vyaadhi artinya sakit. Karena manusia dibangun oleh unsur Purusa dan Predana maka manusia tidak dapat hidup sempurna. Salah satu ketidak sempurnaan manusia dalah ia dapat sakit. Jara artinya umur tua. Tidak ada manusia hidup di dunia ini langgeng secara fisik. Karena itu renungkanlah selalu kalau masa tua itu sudah datang. Kalau sudah tua janganlah sampai segala sesuatu merasa terlambat karena kurang dipersiapkan saat masih muda.
Duhkha artinya kesedihan. Senang dan sedih selalu silih berganti datang mengunjungi manusia. Renungkanlah setiap langkah dalam hidup ini agar jangan mudah mendatngkan kedukaan. Dosa, Dalam hidup ini yang juga harus direnungkan setiap melangkah adalah perbuatan dosa. Manusia setiap hari akan dintai oleh dosa. Hati-hatilah jangan sampai terus terpeleset pada perbuatan dosa. Dosa itu dapat dilakukan oleh orang miskin maupun orang kaya. Ada orang terpaksa berbuat dosa karena diimpit oleh kemiskinan. Pada hal banyak jalan untuk menghindar dari perbuatan dosa meskipun diimpit oleh kemiskinan.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Demikian makna daripada alam yang merupakan rumah kita, baik manusia, tumbuhan dan hewan, semoga ini semua dapat memotivasi kita semua untuk terus menjaga alam lingkungan kita dalam kehidupan kita ini. Akhir kata,,,,,,,,
Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu
“Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH SANTIH SANTIH OM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar