Rabu, 30 April 2014

CATUR ASRAMA



Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah CATUR ASRAMA.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Catur asrama atau dalam bahawa san sekerta di sebutkan catur adalah empat dan asrama merupakan tempat, pertapaan atau lapangan hidup kerohanian. Tempat pertapaan adalah suatu lapangan yang dijadikan latihan pengendalia diri untuk memesuki tempat hidup tertentu berupa petunjuk-petunjuk kerohanian. Jadi, catru asrama itu berarti empat tempat lapangan hidup yang di jadikan tempat latihan mengendalikan diridalam dunia kerohanian menurut tingkatan-tingkatan kehidupan.
Di dalam kitab Silakrama ada disebutkan tentang catur asrama yang berbunyi, artinya:
Yang bernama catur asrama ialah brahmacari, grahastha, wanaprastha dan bhiksuka. Demikianlah yang bernama catur asrama. Brahmacari namannya orang yang sedang membiasakan (mempelajari dengan cermat) ilmu pengetahuan (sastra) dan yang mengetahui perihal ilmu huruf (aksara) orang yang demikian pekerjaannya bernama brahmacari. Adapun yang dianggap brahmacari di dalam masyarakat ialah orang yang tidak terikat nafsu keduniawian, seperti beristri atau bersuami. Adapun brahmacari yagn lain (dari itu) disebut brahmacari asrama, artinya memnuntut ilmu petunjuk kerohanian (atmapradesa). Sang yogiswara beliau brahmacari di dalam berbagai ilmu (sastranatara), di dalam pengertian ilmu (sastrajnana). Setelah puas dimasukkannya pengetahuan semuayang dikehendaki beliau, menjadi grahastalah beliau, maka beristrilah beliau dan mempunyai keturunan dan sebagainya, berikutnya memupuk kebajikan yangberhubungan dengan diri pribadi (kayika dharma), dengan kekuatan yang ada padanya (yatha sakti).
Setelah dilakukan dharma grahasta, menjadi wanaprasta eliau, pergi dari desa dan menetap di tempat yang bersih dan suci, terutama di gunung, dan mendirikan pertapaan sebagai tempatnya melakukan pancakrama serta mengurangi nafsu keduniawian serta mengajarkan ajaran kerohanian (dharma). Setelah beliau wanaprastha, bhiksukalah beliau, maka beliau pergi dari pertapaannya, maka beliau tidak terikat oleh sesuatu, serta tidak mengaku memiliki pertapaan, tidak merasa mempunyai murid (sisya/siswa), tidak merasa berpengetahuan, semua itu ditinggalkan beliau.         
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Itulah uraian agastya parwa mengenai system catru asrama. Dari melihat uraian dalam teks tersebut, jelas bahwasanya di dalam peraturan asrama (lapangan hidup yang berdasar petunjuk kerohanian) yang pertama yaitu brahmacari atau brahmacarya, dari brahmacari yang menjadi pokok ialah soal aguron-guron atau soal menuntut ilmu dan mendidik diri untuk mencapai kesempurnaan rohani. Di samping brahmacari yangberarti juga pantangan atau dilarang untuk mengenal sex (sexsual relation) jadi saat kita berposisi sebagai brahmacari maka kita dilarang untuk berhubungan badan atau dalam arti tidak boleh menikah/kawin. Dalam sastra jawa kuno dikatakan brahmacari digolongkan menjadi tiga macam yaitu: sukla brahmacari, swala brahmacari dan Krishna brahmacari.
Dari inti pokok catur asrama adalah atau empat lapangan dalam menjalankan roda kehidupan itu antara lain: brahmacari asrama, grahasta asrama, wanaprastha asrama dan bhiksuki/sandiasin asrama.
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Seperti uraian di atas, bahwasanya brahmacari adalah tingkatan hidup bagi orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan. Hal ini dapat diperjelas secara khusus dalam kitab Silakrama hsl. 8 sebagai berikut:
“Brahmacari ngaranya sang sedengmangabhyasa sang hyang sastra, mwang sangwruh ring tingkah sang hyang aksara, sang manhkana kramanya sang brahmacari ngaranya”
Yang artinya:
“Brahmacari namanya bagi orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan, dan mengetahui perihal ilmu huruf (aksara)”
Jelas bahwasanya brahmacari atau brahmacarya, dikenal juga dengan istilah hidup aguron-guron, atau asewaka guru. Dengan istilah jawa kunonya disebut dengan lapangan hidup asrama, yaitu tempat penampungan bagi siswa yang sedang menuntut ilmu. Dalam tingkatan brahmacari ini adalah guru mendidik siswa atau murid dengan petunjuk kerohanian, kebajikan, amal, pengabdian, dan semuannya itu didasari oleh dharma (kebenaran). System brahmacari ini lebih mengutamakan pada pembentukan pribadi-pribadi manusia yang tangguh dan handal serta memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Maka oleh karena itu apabila kita masih dalam tingkatan brahmacari baik siswa atau mahasiswa maka hendaknya kita dapat menuntut ilu itu dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena ilmu itu tidak terbatas bahkan setiap kita mengejar ilmu itu maka ilmu itu akan semakin bayak. Ibarak ilmu itu sebuah goa, jadi apabila kita mauk ke dalam goa maka banyak hal yang kita tidak tau dan dengan demikian kita dapat memanfaatkan masa-masa kita sebagai seorang pelajar agar kelak apa yan kita pelajari dapat bermanfaat baik bagi kita sendiri ataupunbagi orang lain yang pastinya untuk pembangunan manusia-manusia nusa dan bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik dan maju.     
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Berikutnya tingkatan grahastha dalam catur asrama adalah masa berumah tangga. Masa berumah tangga di sini tidak semata-mata menikah lalu memiliki keturunan, tetapi ada aturan-aturan yagn patut kita kerhatikan, bahwasannya banyak kasus-kasus di lingkungan sekitar kita bahwasanya kawin atau nikah dengan dipaksa oleh orang tua, atau sebalinya kawin tapi tanpa restu ornag tua dan bahkan yang paling parahnya lagi sebelum menikah sudah mengandung duluan dan akhirnya dengan terpaska kedua orang tua mau-tidak mau harus menerima kenyataan itu.
Dalam agama hindu yang tertuang dalam kitab Manawa dharm sastra jenis atau cara perkawinan ada delapan, salah satunya tadi atas dasar suka orang tua merestui, dan ada atas dasar kehendak orang tua sehingga anak mengikuti apa kemauan orang tua dan ada juga dengan cara menculik anak gadis untuk dipasa dinikahi.
Dasar dari sebuah perkawinan adalah untuk memeiliki keturunan agar kelak ada yang meneruskan karma dari kedua ornag tua, berikutnya hak dan kedudukan suami isti dalam pergaulan kehidupan masyarakat, masing-masing berhak untuk melakukan perbuatan hukum (sesuai aturan), suami sebagai kepala rumah tangga dan isteri sebagai ibu rumah tangga, suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, dan saling memberikan bantuan secara lahir dan batin.
Dari semua itu masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsinya atau kewajiban masing-masing, seperti seorang suami wajib melindungi dan menafkahi anak dan istri, dan lain sebagainya. Kewajiban seorang istri harus pandai membawa diri dan pandai mengatur serta memeihara rumah tangga, supaya baik, harmonis dan ekonomis itu yang pastinya, serta dan lain sebagainnya. Berikutnya kewajiban kita sebagai anak adalah menghormati dan berbhaktikepada oarang tua dengan berperilaku yang menyebabkan orang tua senang dan dapat menumbuhkan cinta kasih lebih mendalam.    
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Berikutnya wanaprastha asaram, apa bila jaman dulu seseorang yang menginjak masa wanaprastha, ia mengasingkan dirikedalam hutan untuk mendapatkan ketenangan hidup, karena di dalam hutan itu jauh dari pengaruh-pengaruh keduniawian, sehingga memungkinkan untuk untuk medapatkan kebahagiaan rohani. Tetapi apabila sekarang hutan sudah mulai punah bahkan sudah rusak karena pembabatan hutan atau illegal loging, sehingga pohon-pohon besar sudah ditebangi dan kita tinggal menerima apabila bencana banjir atau longsor, karena pohon-pohon sebagai penompang itu semua sudah habis di tebangi.
Pendengar umat sedhrama diamnapun berada,
Maksud dari pada masa wanaprastha asrama adalah kita mulai lepas akan pengaruh keduniawian atau simplelnya kita tidak lagi mengurusi urusan-urusan yang meyakngkut harta benda. 
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Masa terakhir dalam catur asrama adalah bhiksuka (sanyasin) yagn dalam kesehariannya hanya meminta-minta dalam artian di sini meminta-minta itu bukan pengemis yang meminta-minta di lampu merah atua pingir jalan. Meminta-minta di sini adalah seluruh pikiran dan berbuatannya hanya dicurahkan untuk memuja sang hyang widhi, sedangkan untuk mempertahankan hidupnya mendapat dari mereka yang mendambakan rasa kasih saying yang abadi. Karena kemantapan rohaninya para bhiksu tahan akan panas, dingin dan lapar, serta tidak terikat dnegan indra.
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Itulah uraian daripada catur asarama, maka kita sebagai manusia tidak hanya lahir, hidup dan mati, tetapi dalam hidup kita banyak memeiliki peran serta tanggung jawab untuk kelangsungan masa depan bangsa serta kelangsungan kelak kita meninggal, karena kelak kita meninggal tidak membawa harta, rupa yang cantik atau yang lainnya, melainkan kelak kita meninggal hanya membawa bekal karma perbuatan kita semasa hidup. Maka mumpung kita diberi umur panjang dan hidup sebagai manusia hendakknya kita manfaatkan untuk berbuat yang baik atau terbaik untuk kita dan orang lain, karena kita tidak bias hidup sendiri. Maka kita harus bersifat atau menjalankan “tat wam asi” “saya adalah kau, kamu adalah saya” maka niscaya saling menghargai dan menghirmati di dunia ini akan terjalin dan mudah-mudahan kita terjauhkan dari malapetaka.
Pendengar Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
 Lokasamasta sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
…………..

KRANGKA DASAR AGAMA HINDU



Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Dalam Tema kita yaitu KRANGKA DASAR AGAMA HINDU .
…………………………..
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Agama Hindu ibarat sebuah rumah. Maka sebuah rumah itu harus ada pondasi, tiang dan atap. Oleh karena itu tiang atau krangka haruslah kuat untuk menghasilkan rumah yang indah, kokoh dan kuat. Tidak beda dengan krangka dasar dari agama Hindu yang memiliki tiga krangka yaitu Tattwa (Filsafat), Susila (Atika) dan Upakara/Upacara (Ritual). Itulah krangka dasar dari pada agama Hindu, tidak sedikit diantara kita mengatakan ritual atau tradisi agama Hindu itu rumit atau dalam bahasa jawanya njelimet, padahal kita ketahui bersama dari tiga krangka dasar agama Hindu itu yang ditonjolkan atau yang harus di lengkapi bukan hanya upakara, atau susila bukan juga tattwanya, melainkan semuanya harus seimbang dan saling menopang, baik dari segi tatwanya, susilannya atau upakaranya.      
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Dari tiga kerangka dasar agama Hindu itu semua dikembalikan lagi kepada pemeluknya, untuk memahami dan menerapkan apa yang semestinya dapat kita lakukan dan apa yang mampu kita selengarakan, jadi jelas bahwasanya kita sebagai umat Hindu tidak dipaksa atau ditekan harus melakukan dan menerapkan apa yang di anjurkan oleh agama, melainkan itu semua sesuai kemampuan kita masing-masing sejauh mana kita dapat mengamalkan ajaran agama Hindu. Dari tiga krnagka dasar agama hindu itu semua pada intinya adalah untuk menuju atau untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, atau dalam pustaka suci disebut dengan “MOKSATHAM JAGATHITYA CA ITI DHARMA” yang artinya dharma atau agama itu ialah untuk mencapai moksa (moksataham) dan kesejahtraan hidup makhluk (jagathita). Moksa disebut juga dengan “mukti” artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Dari tiga krangka dasar agama hindu itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan ketigana menrupakan satu kesatuan yang terjalin menjadi satu. Sehingga dari ketiga krangka dasar agama itu tidak dapat berdiri sendiri, melainkan itu semua satu kesatuan yang harus dipedomani oleh umat hindu semua. Jika filsafat agama saja yang diketahui tanpa melaksanakan ajaran-ajaran susila dan upakara, maka tidaklah sempurnya. Demikian juga jika hanya melakukan upacara saja tanpa dasar-dasar filsafat dan dan etika, percuma pulalah upacara-upacara itu, walau bagaimana besarnya upacara tersebut. Jadi ketiga hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan, seperti halnya kepala badan dan kaki dalam struktur tubuh manusia, jadi kesemuannya saling menunjang untuk melengkapi itu semua. Sama halnya dengan sebuah telur. Ibarat telur itu agama hindu, jadi dari tiga krangaitu semua saling melengkapi, seperti sari telur atau kuning telur itu adalah tattwanya, putih telur itu adalah susilannya dan uapacara itu adalah kulit telurnya, jadi seandanya satu unsur tidak ada dalam telur maka telur itu tidak akan jadi melainkan akan busuk, pecah dan lain sebagainya. Tapi seandanya ketiga unrus itu ada maka telur itu akan dapat menetas dengan sempurnya.        
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Tatwa (filsafat) atau kepercayaan. Dalam agama Hindu kita semua mengenal dengan adanya lima kepercayaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Panca Sradha yaitu percaya dengan adanya Brahman, atma, karma palha, samsara dan moksa. Itu semua merupakan sari atau dasar kita (umat Hindu semuannya) untuk memahami akan hindu seutuhnya. Dalam kepercayaan kita terhadap Brahman (TYME) telah jelas dijabarkan dalam weda dan dikatakan :
“EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN”
“EKO NARAYANAD NA DWITYO’STI KASIT”
“EKAM SAT WIPRAH BAHUDA WADANTI”
Yang artinya sama, adalah  Tuhan itu satu dan tidak ada duannya, hanya orang bijak yang menyebutnya dengan banyak nama. Demikian jelas apa yang terkandung dari unsure tatwa atau kepercayaan, itulah yang menjadi cerminan kita untuk memandang semua hal. Baik dari keyakinan dan kepercayaan, karena dalam kapasitas manusia untuk yakin dan percaya tidak dapat di ukur satuannya, ibarat beras dapat diukur dengan cara satuan Kg atau L, tetapi yang menjadi ukuran seseorang untuk percaya dan keyakinan adalah sejauh mana seseornag itu mengamalkan ajaran dharma atau agama dengan baik, serta dapat menghargai orang lain seperti dia menghargai dirinya sendiri.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Susila (etika) itu merupakan kewajiban kita untuk diamalkan dalam lingkungan masyarakat. Manusia dikatakan makluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri sehingga manusia satu akan membutuhkan manusia lain untuk menunjang kelangsungan hidupnya, oleh karena itu, susila (etika) haruslah menjadi pedoman kit adalam bertingkah laku. Dalam agama hindu dikenal sebuah peribahasa yang mengatakan “saya adalah kamu dan kamu adalah saya” atau dalam peribahasanya “tat wam asi” peribahasa itu mengajarkan kita untuk bisa hidup bersosial serta memandang ornag lain selayaknya memandang diri kita sendiri. Serta peribahasa itu mengajarkan kita untuk sebuah kesosialanyang tanpa batas, karena memandang manusia itu sama, apabila kita menilong orang lain, maka kita menolong diri kita juga, sebaliknya apabila kita menyakiti ornag lain maka kita juga menyakiti diri kita sendiri. Itulah arti dari sebuah etika yang menjadi dasar kita untuk mengarungi bahtera hidup ini.  
Pendengar Umat Sedharma Yang Saya Cintai
Upacara (uapcara) hal ini juga merupakan krangka dalam agama hindu. Atau dalam bahasa sehari-hari adalah ritual yang kerap kita laksanakan setiap hari baik di pura atau di rumah. Dari sudut pandang filsafat, upacara adalah atau  merupakan cara-cara melakukan hubungan antara atma dengan parama-atma, antara manusia dnegan Hyang Widhi serta semua manifestasinya, dengan jalan yadnya untuk mencapai kesucian jiwa. Untuk melakukan upacara-upacara tersebut harus memerlukan upakara, yang digunakan sebagai alat atau penolong untuk memudahkan manusia menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi dalam bentuk yang nyata. Tetapi dalam pelaksanaan upacara atau upakara itu lebih  ditekankan kepada peyelenggara dalam memaknai dan memahami unsur upacara tersebut, sehingga dalam pelaksanaan upacara tidak seolah dipaksa harus sesuai di bali atau di jawa, seperti ibaratnya sibul dari alam beserta isinya di bali di smibulkan dnegan bentuk daksina, tetapi di jawa di simbulkan dengan (cokbakal_jawa red) dari situlah bentuk upakara di sesuaikan dnegan lokal genius setempat.
Pendengar umat sedharma yang berbahagia
Itulah dasar dari pada agama hindu, yang memiliki kerangka beserta hiasan (symbol) serta pengunaannya dalam kehidupan sehari hari.
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
 Lokasamasta sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
…………..

DHARMA



Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah tentang DHARMA.
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Sering kita katakan kita harus berperilaku dan berbuat sesuai dharma, mengarungi kehidupan juga harus sesuai dharma, berperilaku di lingkungan masyarakat harus sesuai dharma, berperilaku di sekolah, tempat kerja dan dimana-mana harus berbuat sesuai dharma, tetapi perlu kita ketahui bersama, dharma tidak hanya untuk berperilaku, tetapi juga untuk berpikir, berbicara dan perasaan pun memiliki kemampuan untuk mengamalkan atau mengajarkan dharma, sehingga kita dapat memahami dharma dengan seutuhnya.
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Tentang Dharma mungkin Bapak/Ibu pendengar umat sedharma sudah mengetahui apa itu dharma, dan mengapa kita harus merbuat sesuai dharma dan lain sebagainnya, serta sering pula kita ucapkan sedikit-sedikit harus sesuai dharma. Bahwasanya Dharma yang sesungunnya adalah segala yang mendukung manusia untuk mendapatkan kerahayuan. Dengan demikian, dharma mengandung kebajikan, kebenaran, dan hukum. Kita sebagai umat Hindu, tentu mengetahui, bahwasanya kita sebagai uamat Hindu berlandaskan dharma, karena itulah sering pula agama Hindu disebut sebagai sanantana dharma, yang artinya ialah ajaran yang abadi. Karena landasannya dharma, maka agama Hindu menuntun orang untuk mendapatkan kerahayuan dalam hidup ini.
Dengan demikian pula dharma menuntun atau mengarahkan manusia atau mengajarkan pelepasan dari ikatan duka yang selalu merupakan ciri dari hidup ini. Tidak dapat kita pungkiri, bahwasanya dijaman kali yuga ini, hampir semua umat manusia akan lupa dengan dirinya sendiri, serta sudah mulai mengkesampingkan ajaran agama, serta etika dan susila yang sudah mulai pudar dari diri kita, dan banyak lagi perilaku manusia yang menyimpang dari yang sebenarnya, sehingga sulit kita berfikir untuk dapat hidup dengan tenang dan tentram, karena saling bersikutan antara manusia satu dengan manusia lainnya, bahkan yang lebih parah lagi apabila kita hidup di suatu kelompok yang memikirkan dirinya sendiri atau dalam arti bahasa gaulnya itu egois, dengan demikian, sehingga keselarasan dan saling menghormati itu sudah tidak ada lagi, seperti kita  di dalam dunia kerja atau contoh mudahnya dalam satu kantor, kadang kerabat kerja kita iri saat melihat kita sukses atau mendapat posisi yang lebih tinggi (jabatan) dari situlah sehingga terbangun perasaan yang tidak harmonis, sehingga itulah yang muncul apabila kita tidak sadar akan siapasih sebenarnya kita ini, dan mengapasih kita hidup di dunia ini bersama orang-orang lain?, serta kenapa ada orang yang kaya, miskin, rambut kriting, rambut lurus, kulit hitam, kulit putih, serta lain sebagainya?. Itulah serentetan pertanyaan yang sering menghinggapi pikiran kita di saat perbedaan itu muncul. Kondisi itu tercipta bukan semata-mata Tuhan menciptakan hal itu agar kita terus-menerus berkonflik, tetapi yang sebenarnya adalah kita saling melengkapi dan saling mengisi serta saling menghormati, maka ajaran atua perilaku yang saling menghormati itu adalah ajaran dari pada dharma itu sendiri. Jadi jelas bahwasanya dharma merupakan tuntunan untuk kita dapat menghormati serta mengasihi satu sama lain tanpa memandang suku, adat, ras dan golongan atau ciri fisik lainnya.       
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Kita sebagai manusia sangat jauh dari sebuah kesempurnaan. Dan bahkan manusia yang di lahirkan di bumi ini atas dasar kehendak Tuhan YME memang tidak dibuat untuk sempurna pertanyaannya kenapa?, karena apa bila manusia di bumi ini sempurna, maka manusia satu dengan manusia lainnya tidak saling memerlukan serta tidak saling membutuhkan untuk melangsungkan kehidupannya, Maka disini pertanyaanya bagaimana seandainya manusia itu serba bisa? Maka tidak perlu lagi sistem sosial, tidak perlu lagi ada orang berjualan di pasar, tidak perlu lagi ada tukang ojek atau supir taksi dan lain sebagainnya. Dengan demikiana apa tidak kacau sistem yang ada saat ini?. Oleh karena itu, maka saling memerlukan serta saling melengkapi itu harus ada dan mutlak adanya. Untuk menerapkan sistem, dengan demikian supaya satu sama lain tidak saling merugikan dan tidak ada saling curiga, maka ajaran dharma itulah yang penting kita amalkan serta menjadi landasan dan pedoman, sehingga satu-sama lain tidak ada perselisihan melainkan saling menghormati dan toleransi akan terbangun dengan sendirinya.    
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Mengurip artikel seorang pendharma wacana terkemuka di bali mengatakan manusia itu ibarat seekor burung yang memiliki satu sayap. Jadi seandainya dia mau terbang maka membutuhkan seekor burung lagi agar mereka saling bergandengan untuk bisa terbang. Filosofis burung tersebut sangat errata kaitannya dengan manusia yangtidak pernah sempurnya seutuhnya, karena manusia ada lebih di sisni ada juga kurnag di sana. Maka dengan demikian kita sebagai manusia tidak boleh sombong serta egois dan mengangap diri kita mampu berbuat sesuatu dengan sendiri atau seorang diri, itu mustahil adanya.     
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.   Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah. Oleh karena alasan inilah, kita mencoba untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan memeluk orang lain.
Demikian jelas bahwasanya kita hidup di dunia ini tidak bisa sendiri, sehingga kenapa manusia mendapat julukan makluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri, dari hal tersebut untuk kita tetap harmonis dalam menjalani hidup-hidup ini, maka penting semua itu kita landasi dengan sebuah bingkai kasih saying yaitu dharma. Maka niscaya adakan kita akan bahagia dan harmonis apabila kita selalu berpedoman dan berlandaskan dharma dalam mengarungi hidup ini      
…………………………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang Saya cintai
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
 Lokasamasta sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
…………..

APA ITU HINDU



Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Dalam Tema kita yaitu APA ITU HINDU.
…………………………..
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Kita ketahui bersama, bahwasanya agama hindu merupakan agama tertua di dunia ini. Sebagai agama dunia yang telah tua usianya, dan dengan adanya perkembangan dunia selama kurun waktu 5000 tahun, tentunya banyak mengalami proses pengembangan dan pengabdatasian yang patut kita renungkan. Dari perbedaan tempat, letak geografis, bentuk budaya, dan lain sebagainya, sehingga agama hindu menampilkan wajah yang berbeda-beda tetapi secara prinsip intinya tetap sama. Walau pelaksanaannya dapat berbeda, namun secara prinsip intinya sama.   
...........................................
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Agama hindu mengajarkan kepercayaan yang universal atau menyeluruh. Ia memberikan kebebasan kepada penganut-penganutnya untuk menghayati dan merasakan sari-sari ajarannya. Sedangkan penganutnya (kita sebagai umat hindu) tidak hanya menghafalkan apa yang diajarkan oleh kitab sucinya, tetapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena kebebasan untuk mengalami rasa agama, maka agama hindu adalah agama yang dirasakan oleh seluruh lapisan penganutnya.
Dengan sifatnya yang universal, maka agama hindu bukanlah agama untuk satu golongan atau suatu bangsa. Ia adalah agama untuk siapa saja yang bersedia mengamalkan ajarannya. Yaitu mengajarkan tentang dharma atau kebaikan serta memandang ornag lain seperti kit amemandang diri kita sendiri yang tertuang dalam weda di katakana “tat wam asi” yaitu “kamu adalah saya, saya adalah kamu”, dengan demikian bahwasanya kita dapat memandang orang lain selayaknya manusia yang bermartabat sebagai makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Penanut ajaran agama hindu adalah mereka yang menikmati hidup ini dengan gairah serta menikmati suka dan dukanya dunia ini. Karena kita sebagai manusia ciptaan tuhan hendaknya kita menerima kenyataan dunia ini sebagaimana adanya, serta patuh akan hukum-hukumnya dan berusaha untuk emningkatkan kesejahteraan hidup dengan membebaskan dirinya dari permusuhan atau perselisihan, sehingga terjalinlah sebuah bangsa yang cinta akan kedamaian dengan menerapkan tat wam asi serta saling mengasihi dan mencintai satu sama lain.  
……………………………………
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwasanya agama hindu adalah agama yang universal serta tidak hanya untuk satu golongan atau kelompok dan dapat beradap tasi dari jaman ke jaman serta dari tempat satu ke tempat lainnya, sehingga ajaran hindu mengikuti gaya atau tradisi dan budaya setempat, seperti di bali, umat hindu di bali melakukan persembahyangan atau beribadah dengan cara lebih banyak mengutamakan upakara atau banten, berbeda dengan di jawa yang lebih mengutamakan tatwa, berdeda juga dengan di Kalimantan, Sulawesi, ambon dan lain sebagainnya. Itulah penerapan dari pada ajaran agama hindu, tetapi dasar dari agama hindu adalah menerapkan ajaran dharma, sehingga agama hindu disebut dengan “sanantana dharma”.       
……………………………………… 
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Inti dari ajaran atau penerapan agama hindu bukan pada simbul upakara ataupun sejenisnya, bukan juga prosesi ibadahnya, serta bukan dari keturunan, melainkan ajaran agama hindu adalah bagi mereka yang memiliki keyakinan atau yang lebih dikenal dengan panca sradha yaitu percaya dengan adanya btahman atau tuhan, percaya dengan adanya atma atau roh, percaya dengan adanya kukum karma palha atau hukum sebab akibat, percaya dengan adanya samsara atau punar bhawa yaitu kelahiran kembali dan percaya dengan adanya moksa yaitu menyatunya atma dengan Brahman atau mudahnya menyatunya roh kita kepada Tuhan YME (Sang Hyang Widhi Wasa) yang berlandaskan pada iga krangka dasar agama hindu yaitu tatwa (filsafat), susila (etika) dan upakara (ritual). Itulah sebenarnya ajaran agama hindu, jadi dari sekian komponen harus seimbang dan selaras serta tetap mengabadikan ajaran “tat wang asi”, yang mengajarkan “saya adalah kamu, kamu adalah saya” jadi tat wam asi itu mengajarkan kita sebagaimanusia untuk saling mencintai dan mengasihi satu sama lain, dan tanpa memandang suku, adat, ras, agama dan golongan atau miskin dan kaya. Karena senantiasa mereka yang diciptakan di bumi ini adalah ciptaan Tuhan YME dan patut kita lindungi dan kita jaga serta kita rawat demi tercapainnya manusia yang bermartabat serta memandang manusia selakaknya manusia yang memilikiharga diri. 
……………………………………..  
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Tujuan agama hindu adalah “moksatam jagabdhita ya ca iti dharma” yaitu menyatunya roh kita atau atma dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME) sehingga apa bila kita sebagai manusia menginginkan hal itu maka hendaknya kita semasa hidup harus berbuat sesuai ajaran agama baik dari segi panca sradha, tri hita karana atau tat wam asi, sehingga niscaya kita sebagai manusia dapat hidup bahagia dengan berdampingan sesame manusia serta alam dan seisinya.
Apabila kita mau menengok alam ini, jadi bumi serta seisinya ini ibarat taman bunga, ada bunga yang warna merah, ada putuh, ada kuning, ada hijau bahkan ada yang biru, begitu juga binatang yang berbain di taman itu, ada kupu-kupu yang beraneka ragam warna, ada kumbang bahkan ada pula lebah yang terus menerus menghisap madu bunga-buga tersebut. Sehingga lengkaplah semua unsur kehidupan yang ada dalam lingkungan kita jadi apa bila ada orang jahat atau ornag yang kerjaannya mengusik bahkan mengancam ornag lain itu sebenarnya orangnya, seperti halnya bom bali, baik bom satu maupun bom kedua, begitu juga terorisme, itu sebenarnya sifat orang tersebut yang menyimpang dari pada agama, sehingga bukan agama yang mengajarkan hal itu , bahkan sebenarnya baik agama hindu ataupun agama-agama yang ada di bunia ini itu semua negajarkan kebaikan, kebajikan serta saling mengasihi manusia sati dengan manusia yang lainnya serta manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga jelas di dunia ini tidak ada agama yan mengajarkan keburukan melainkan semua agama mengajarkan kebaikan.   
...............................................................
Pendengar umat sedharma yang berbahagia
Jelas bahwasanya semua agama mengajarkan kebaikan, serta agama pula melarang bagi pemeluknya untuk saling menyaikiti satu sama lain, bahkan agama melarang berbuatan yang merugikan orang lain. Itulah sebenarnya agama, yang memiliki arti ”A” dan ”GAM” jadi agama adalah ”A” artinya tidak dan ”GAM” artinya pergi, jadi AGAMA adalah tidak pergi dan tetap ditempat untuk selamanya serta langgeng dan abadi.
...........................................................................
Pendengar Umat Sedharma Yang Saya Cintai     
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
 Lokasamasta sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
…………..