Selasa, 22 Agustus 2017

BAGAWADGITA PENUNTUN KEHIDUPAN

Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru), Pendengar sedharma yang berbahagia, Puja dan Puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa), karena Atas segala Asung kerta wara nugrahaNya yang telah Beliau limpahkan kepada kita semua, sehingga dalam kesempatan ini kita dapat berjumpa kembali pada acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun topik Renungan kita malam ini adalah tentang “BHABGWAD GITA PENUNTUN KEHIDUPAN”.

Pendengar Sedharma dimanapun berada,
Manusia pada jaman Kali ini sering dibingungkan oleh hiruk pikuknya dunia modern. Bagaikan Arjuna dibingungkan oleh pristiwa perang Brata Yudha yang dihadapinya. Arjuna menganggap perang itu untuk merebut tahta Kerajaan. Pada hal, perang itu adalah untuk menegakan kebenaran dan melenyapkan kejahatan. Bagi mereka yang sudah memahami  hakekat  ajaran  suci Weda dengan Bhagawad Gita sebagai intisarinya, maka kebingungan itu tahap demi tahap akan menghilang. Setelah itu munculah ketenangan lahir batin. Salah satu fungsi Agama adalah mendapatkan sikap hidup yang terang, tentu dan pasti dalam hidup ini mendapatkan ketenangan lahir batin. Berbagai tuntunan spiritual dalam menjalankan hidup ini agar mendapatkan kehidupan  lahir batin yang utuh, terpadu sangat komplit, terdapat dalam kitab suci Bhagawad Gita. Sebagai Sumber Daya Manusia yang berkualitas, harus memiliki setidak-tidaknya tiga hal, yaitu sehat secara jasmani, tenang dan damai secara rohani dan profesional. Tiga hal ini saling kait mengkait  membangun kekuatan manusia sebagai sumber daya pembangunan, untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtra lahir batin. Bhagawad Gita kalau  benar-benar didalami secara baik, benar dan tepat  manusia akan mendapatkan tiga syarat tersebut.
Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
Yoga sering sekali dihubungkan dengan hal-hal yang seram-seram saja. Yoga pada hakekatnya adalah jalan menuju jalan Tuhan, melalui jalan di dunia ini. Menempuh jalan Tuhan bukanlah berarti melupakan hidup keduniaan. Justru hidup di dunia ini harus dituntun dengan daya spiritual yang menguatkan kecerdasan intelektual dan kesejukan emosinal sehingga dunia ini menjadi media untuk menuju kehidupan yang sejahtra lahir batin. Kehidupan spiritual itu adalah hidup yang mengupayakan kesucian roh (Atman) menjadi kekuatan suci yang menguasai seluruh sistim hidup.
Pendengar Sedharma,
Sistem hidup itu ada yang menyangkut sistem hidup individual maupun sistim hidup sosial yang berlandaskan Sradha dan Bhakti pada Tuhan. Jalan Yoga disini artinya jalan persatuan yang totallitas dinamis menuju keharmonisan  yang proporsional. Persatuan kepada alam lingkungan dimana manusia harus mengabdikan hidupnya untuk melindungi kesejahtraan alam lingkungan (Bhuta Hita) dengan penuh kasih sayang agar alam selalu dapat menjadi sumber kehidupan umat manusia. Persatuan dengan sesama umat manusia melalui hidup untuk saling mengabdi dengan landasan keadilan. Persatuan dengan Tuhan, artinya manusia melakukan upaya untuk tahap demi tahap melakukan langkah-langkah menuju jalan Tuhan.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Dalam Bhagawad Gita III.10 disebutkan bahwa, hubungan timbal balik antara Manusia (Praja) dengan  Tuhan sebagai Raja Alam Semesta (Praja Pati), anatara manusia dengan sesama manusia, antara manusia dengan alam lingkunganya (Kamadhuk) yang didasarkan pada Yadnya. Hubungan yang harmonis antara Prajaati (Tuhan) dengan Praja dengan bhakti, hubungan yang harmonis antara Praja dengan Praja atau antara manusia dengan manusia berdasarkan punia, dan hubungan yang harmonis antara Praja (manusia) dengan alam lingkungannya (Kamadhuk) inilah yang sumber Tattwa dari ajaran Tri Hita Karana.
Pendengar Sedharma,
Yadnya sebagai dasar hubungan antara Prajapati, Praja dan Kamadhuk itu adalah suatu keikhlasan berkorban demi tujuan yang mulia dan suci. Yadnya itu lahir dari kerja (Bhagawad Gita III,14). Kerja (Karma) yang berdasarkan Yadnya itu adalah kerja yang dilakukan dengan Jnyana dan untuk persembahan kepada Tuhan (Bhakti). Jnyana itu adalah kesadaran rohani melalui pemahaman akan pengetahuan suci. Jadinya Jnyana, Karma dan Bhakti itu adalah jalan Yoga. Katiga jalan ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Swami Satya Narayana menyatakan Jnyana, Karma dan Bhakti itu ibarat gula batu. Sulit memisah-misahkan antara bentuk, berat dan rasa dari gula batu tersebut. Jnyana tanpa Karma tidak akan sempurna. Demikian juga Jnyana dan Karma tanpa Bhakti juga akan sia-sia. Jnyana, karma dan Bhakti itu saling lengkap melengkapi.
Pendengar Umat Sedharma yang saya banggakan,
Barang siapa dalam hidupnya sehari-hari tidak ikut memutar Cakra Yadnya yang sifatnya timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya (Bhagawad Gita III.16). Ini artinya barang siapa yang hanya memikirkan hidup untuk dirinya sendiri saja tanpa memperhatikan hidup pihak lain, ia sesungguhnya telah berbuat kejahatan. Hidup seperti itu adalah hidup yang sia-sia saja adanya. Misalnya orang hanya mengambil sumber-suber alam, tetapi tidak pernah mengembalikan kelestarian alam itu. Demikian juga ada pengusaha yang memeras tenaga buruh untuk keuntunganya. Tetapi tidak pernah memperhatikan nasib buruh itu sendiri. Dalam Bhagawad Gita IV.33 ada dinyatkan bahwa Jnyana Yadnya adalah yadnya yang aling agung dari pada Yadnya yang lainya. Jnyana Yadnya itu adalah beryadnya dengan ilmu pengetahuan.      
Pendengar Sedharma,
Hubungan yang timbal balik antara Prajapati (Tuhan) dengan Praja (manusia) dan Kamadhk (alam) inilah di populerkan dengan Tri Hita Karana. Tiga penyebab lahirnya kebahagiaan. Karena itu dalam kehidupan kita sehari-hari lakukan kegiatan untuk Bhakti pada Tuhan. Dari Bhakti kepada Tuhan itu kita mendapatkan kekuatan suci. Kekuatan suci itu dijadikan dasar untuk memelihara alam lingkungan dengan penuh kasih sayang (Yadnya) dan mengabdi kepada sesama manusia sesuai dengan Swadharma masing-masing. Setiap manusia yang lahir kedunia ini menurut kitab Vatsyayana Dharmasastra memiliki Swadharmanya sendiri-sendiri. Swadharma itu ada yang berdasarkan Asrama Dharma, Varna Dharma, Guna Dharma dan Sadarana Dharma. Swadharma Brahmacari (tahap hidup belajar) berbeda dengan Swadharma Grhasta (tahap hidup berumah tangga). Demikian juga dengan Wanaprasta (tahap memasuki masa pensiun) maupun Sanyasin Asarma (tahap hidup melepaskan dari dunia ini). Swadharma Brahmana Varna berbeda dengan Ksatria, Waisya dan Sudra Varna. Guna Dharma mengabdi sesuai dengan keahlian khusus yang dimiliki seseorang. Sedangkan Sadarana Dharma adalah kewajiban mengabdi kepada kepentingan-kepentingan umum. Kalau semua orang mengabdi sesuai dengan Swadharmanya masing-masing, maka proses hidup ini akan terjadi pengabdian yang timbal balik secara sinergis. Karena semua Swadharma itu sifatnya saling lengkap melengkapi.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Itulah arti dari pada gengsi dan fungsi, sehingga dengan demikian kita dapat menempatkan diri kita sebagaimana mestinya, dan semoga kiranya hal ini bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya. Akhir kata;
Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar