OM SWASTYASTU, Om
Awignamastu Namo Sidham, Om siddhir astu
tat astu svaha, Om Sukham bhavantu, purnam bhavantu, Manggalam astu, tat astu
svaha. Saudara Sedharma
yang berbahagia Selamat pagi dan selamat berjumpa kembali dalam
acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Mengawali
jumpa kita pagi ini, marilah kita menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) karena atas asung kerta
wara nugraha-Nya kita dapat berjumpa kembali dalam acara santapan rohani agama
Hindu. Pendengar sedharma Topik kita pagi ini adalah tentang “GALUNGAN”.
……..
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia,
Sebentar lagi
kita akan merayakan hari besar yang menyimbulkan kebaikan melawan kejahatan
atau kemenangan dharma melawan adharma yang dirayakan setiap 120 hari sekali
atau setahun dua kali yang sering disebut dengan hari raya galungan. Sebagai
umat hindu hari raya galungan sering juga disebut hari pawedalan jagat atau
otonan gumi.
………………………………
Pendengar
Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Hari galungan memiliki banyak cerita sehingga
menimbulkan banyak pengertian, sehingga hari raya galingan tidak hanya
semata-mata dharma melawan adharma dan kemenagan di pihak dharma. Ada beberapa
versi pnegertian dari pada galungan itu sendiri. Banyak orang mengartikan
galungan itu berasal dari kata Gulat yang
berarti pergulatan. Berdasar atas pengertian ini dapat dikatakan bahwa galungan
adalah merupakan pergulatan dharma melawan adharma dengan kemenangan berada
pada pihak dharma, sehingga galungan dapat diartikan sebagai hari peringatan
kemenangan dharma melawan adharma.
Di lain sisi banyak orang juga mengartikan
galungan berasal dari kata Galunggung yang
berarti tonggak peringatan pertemuan astawarna dengan pancawarna secara bulat
atau Ngwindu dalam kurun waktu
tertentu. Sehingga dalam pelaksanaannya upacara tonggak peringatan itu
disimbulkan dengan penjor, sedangkan penjor tersebut, itu melambangkan atau
simbol persembahan terhadap Tuhan yang bersemayam di puncak-puncak gunung
tertinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gunning adalah merupakan
tongak-tonggak daripada alam semesta.
Berbeda lagi dalam prespektif atau pemahaman
kita terhadap galingan itu sendiri. Dalam sebagian mayarakat juga mengartikan
galungan berasal dari kata galung yang
berarti pertarungan, yaitu member kesan kepada kepada kita bahwa perayaan
galungan ada hubungannya dengan perang. Keadaan perang abadi antara kebenaran
dengan kejahatan, antara sura melawan asura tetapi menjadi tema sehingga semua
symbol dalam yadnya mengandung lambing perang.
…………………………………..
Pendengar
Umat Sedharma yang Berbahagia
Dari sudut
pandang tradisi, masyarakat memiliki Pemahaman yang berbeda pula, baik di bali
yaitu di Indonesia dengan di India. Apabila di di Indonesia atau di bali,
mengaitkan perayaan galungan atau perayaan galungan berkaitan dengan runtuhnya
kerajaan mayadanawa. Di samping itu, ada yagn menghubungkan dengan raja
jayapangus menerima wahyudari bgatari durgha tatkala beliau bersemadi, supaya
hari raya galungan itu dirayakan oleh masyarakat bali.
Berbeda halnya
dengan pemahaman tradisi galungan di india. Tradisi di india mengaitkan sejarah
perayaan galungan dengan terjadinya peperangan antara dewa-dewa melawan
dhanawa/raksasa di mana dewi durgha memegang peranan penting sebagai pahlawan
yang menyelamatkan dewa-dewa selama 10 hari, karena itu galungan di india
dikenal dengan durgha puja atau nawa ratri atau wijaya dasami.
………………………….
Pendengar
Umat Sedharma dimanapun berada
Dari pemahaman
masyarakat baik dalam pemahaman budaya dan secara umum akan perayaan galungan
yang saya sampaikan tadi, itu tidak menjadi sebuah perbedaan di antara kita
semua, terutama bagi umat hindu di seluruh dunia. Saat ini yang penting dan
perlu kita ketahui dan pahami, sejauh mana kita dapat menghayati dan
melaksanakan hari raya galungan itu sendiri.
Tetapi yang
perlu kita ketahui secara umum bahwasanya galungan adalah sebuah perayaan atau
sukuran atas kemenangan dharma melawan adarma. Contoh kecilnya musuh dalam diri
kita sendiri. Itulah musuh yang paling sulit kita lawan dan atau kita hindari.
Bahkan apabila kita menjauhinya maka dia akan mendekat kita, begitu juga
sebaliknya, apabila kita mendekatinya dia akan menjauhi kita. Sehingga perayaan
galungan tidak hanya kita rayakan dengan foya-foya atau dengan acara yang
meriah-ruah dan happy-happy, tetapi yang perlu kita pahami adalah sejauh mana
kita dapat melawan musuh dalam diri kita sendiri. Dan saat ini baik saat
perayaan galungan atau bukan perayaan galungan, hendaknya kita dapat melawan
atau menaklukkan hawa nafsu kita di dalam diri kita sendiri sehingga kedepannya
kita dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan kita dapat intropeksi diri.
……………………………………….
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Sesungguhnya
hari raya Galungan itu adalah hari untuk mengingatkan umat manusia untuk
melakukan nilai-nilai moral yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang lebih
sejahtra dan bahagia. Mengapa diingatkan, karena manusia itu umumnya sering
lupa. Dan diingatkan pada hari raya Galungan itu agar kita sebagai manusia
untuk terus-menerus berjuang memenangkan nilai moral (Dharma) dalam hidupnya
ini. Karena kalau moral Dharma tidak tegak maka hidup manusiapun akan selalu
dirundung derita karena Adharma yang meraja lela. Untuk mengatasi penderitaan
itu, maka dalam perayaan Galungan divisualkan tahapan yang wajib dilakukan
dalam hidup ini, agar kita dapat hidup diatas relnya Dharma. Karena manusia
sering lupa dan selalu adanya perobahan generasi, maka visualisasi penguatan
hidup agar senantiasa berjalan diatas relnya Dharma dan hal itu agar dapat
terus-menerus diingatkan melalui perayaan Galungan sampai Kuningan.
……………………………
Pendengar
Umat Sedharma yang saya cintai
Hari suci
Galungan itu kita rayakan setiap Budha Kliwon wuku Dungulan. Mungkin belum
banyak perayaan itu dirayakan dengan terlebih dahulu mencocokan perayaan itu
dengan teksnya atau dalam pustaka petunjuknya. Dalam Pustaka Sunarigama ada
dinyatakan tentang pengertian Galungan dalam bahasa Jawa Kuno. Teks tersebut
sbb: Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang jnyana sandhi
galang apadang mariakena byaparaning idep. Inilah teks pustaka Sunarigama
yang memberikan kita penjelasan apa itu sebenarnya Galungan. Petunjuk moral
dari Galungan inilah yang hampir selalu dilupakan dalam merayakan Galungan.
Teks Sunarigama itu semestinya kita selalu pegang sebagai landasan setiap
merayakan hari besar keagamaan Hindu terutama hari raya Galungan. Dan
ditekankan dalam rumusan Sunarigama itu
adalah Jnyana. Dalam ajaran Samkhya Yoga Darsana dinyatakan bahwa
manusia itu dibangun oleh dua unsur yaitu
Purusa dan Predana. Dari Purusa itu menimbulkan Citta atau alam
pikiran. Citta itu memiliki empat kekuatan yaitu Dharma, Jnyana, Vairagia
dan Aiswarya.
……………………………
Pendengar
Umat Sedharma di manapun berada
Itulah perayaan galungan yang sebenarnya. Jadi
sebua perayaan hari raya baik galungan, kuningan, saraswati atau yang lainnya
hendaknya kita memaknai hari raya itu tidak tidak baku dalam teks atau dalam
cerita-cerita tradisi masyarakat jaman dulu, tetapi kita sesuaikan teks dalam
kitab suci dengan konteks kekiniaan atau dalam arti kenyataan realita yagn kita
hadapi saat ini, yang mana kehidupan saat ini hampir semua manusia lebih
mengejar martialisme, sehingga manusia tidak memandang ornag lain itu ada dan
bergerak. Itulah nafsu yang kadang sulit untuk kita kendalikan, sehingga dengan
adanya hari raya galungan, hal itu dapat mengingatkan kita semua agar kita
dapat mengendalikan hawa nafsu kita yang jahat menjadi baik dan yang baik
menjadi lebih baik.
……………………………………….
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Demikian yang
dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang
Widhi Wasa senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
“Lokasamasta
sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh
isi alam berbahagia
OM SANTIH,
SANTIH, SANTIH OM .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar