Om Swastyastu,
Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga
pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia,
puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME),
karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang
disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah CATUR ASRAMA.
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia,
Catur asrama
atau dalam bahawa san sekerta di sebutkan catur adalah empat dan asrama
merupakan tempat, pertapaan atau lapangan hidup kerohanian. Tempat pertapaan
adalah suatu lapangan yang dijadikan latihan pengendalia diri untuk memesuki
tempat hidup tertentu berupa petunjuk-petunjuk kerohanian. Jadi, catru asrama
itu berarti empat tempat lapangan hidup yang di jadikan tempat latihan
mengendalikan diridalam dunia kerohanian menurut tingkatan-tingkatan kehidupan.
Di dalam kitab Silakrama ada disebutkan tentang catur asrama yang berbunyi, artinya:
Yang bernama catur
asrama ialah brahmacari, grahastha, wanaprastha dan bhiksuka. Demikianlah yang
bernama catur asrama. Brahmacari namannya orang yang sedang membiasakan
(mempelajari dengan cermat) ilmu pengetahuan (sastra) dan yang mengetahui
perihal ilmu huruf (aksara) orang yang demikian pekerjaannya bernama
brahmacari. Adapun yang dianggap brahmacari di dalam masyarakat ialah orang
yang tidak terikat nafsu keduniawian, seperti beristri atau bersuami. Adapun
brahmacari yagn lain (dari itu) disebut brahmacari asrama, artinya memnuntut
ilmu petunjuk kerohanian (atmapradesa). Sang yogiswara beliau brahmacari di
dalam berbagai ilmu (sastranatara), di dalam pengertian ilmu (sastrajnana).
Setelah puas dimasukkannya pengetahuan semuayang dikehendaki beliau, menjadi
grahastalah beliau, maka beristrilah beliau dan mempunyai keturunan dan
sebagainya, berikutnya memupuk kebajikan yangberhubungan dengan diri pribadi (kayika
dharma), dengan kekuatan yang ada padanya (yatha sakti).
Setelah
dilakukan dharma grahasta, menjadi wanaprasta eliau, pergi dari desa dan
menetap di tempat yang bersih dan suci, terutama di gunung, dan mendirikan
pertapaan sebagai tempatnya melakukan pancakrama serta mengurangi nafsu
keduniawian serta mengajarkan ajaran kerohanian (dharma). Setelah beliau
wanaprastha, bhiksukalah beliau, maka beliau pergi dari pertapaannya, maka
beliau tidak terikat oleh sesuatu, serta tidak mengaku memiliki pertapaan,
tidak merasa mempunyai murid (sisya/siswa), tidak merasa berpengetahuan, semua
itu ditinggalkan beliau.
Pendengar
Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Itulah uraian
agastya parwa mengenai system catru asrama. Dari melihat uraian dalam teks
tersebut, jelas bahwasanya di dalam peraturan asrama (lapangan hidup yang
berdasar petunjuk kerohanian) yang pertama yaitu brahmacari atau brahmacarya,
dari brahmacari yang menjadi pokok ialah soal aguron-guron atau soal menuntut
ilmu dan mendidik diri untuk mencapai kesempurnaan rohani. Di samping
brahmacari yangberarti juga pantangan atau dilarang untuk mengenal sex (sexsual
relation) jadi saat kita berposisi sebagai brahmacari maka kita dilarang untuk
berhubungan badan atau dalam arti tidak boleh menikah/kawin. Dalam sastra jawa
kuno dikatakan brahmacari digolongkan menjadi tiga macam yaitu: sukla
brahmacari, swala brahmacari dan Krishna brahmacari.
Dari inti pokok catur
asrama adalah atau empat lapangan dalam menjalankan roda kehidupan itu antara
lain: brahmacari asrama, grahasta asrama, wanaprastha asrama dan
bhiksuki/sandiasin asrama.
Pendengar
Umat Sedharma yang Berbahagia
Seperti uraian di atas,
bahwasanya brahmacari adalah tingkatan hidup bagi orang yang sedang menuntut
ilmu pengetahuan. Hal ini dapat diperjelas secara khusus dalam kitab Silakrama hsl. 8 sebagai berikut:
“Brahmacari ngaranya sang
sedengmangabhyasa sang hyang sastra, mwang sangwruh ring tingkah sang hyang
aksara, sang manhkana kramanya sang brahmacari ngaranya”
Yang artinya:
“Brahmacari namanya bagi orang yang sedang
menuntut ilmu pengetahuan, dan mengetahui perihal ilmu huruf (aksara)”
Jelas bahwasanya brahmacari atau brahmacarya,
dikenal juga dengan istilah hidup aguron-guron, atau asewaka guru. Dengan
istilah jawa kunonya disebut dengan lapangan hidup asrama, yaitu tempat
penampungan bagi siswa yang sedang menuntut ilmu. Dalam tingkatan brahmacari
ini adalah guru mendidik siswa atau murid dengan petunjuk kerohanian,
kebajikan, amal, pengabdian, dan semuannya itu didasari oleh dharma (kebenaran).
System brahmacari ini lebih mengutamakan pada pembentukan pribadi-pribadi
manusia yang tangguh dan handal serta memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan
ketrampilan. Maka oleh karena itu apabila kita masih dalam tingkatan brahmacari
baik siswa atau mahasiswa maka hendaknya kita dapat menuntut ilu itu dengan
sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena ilmu itu tidak terbatas bahkan
setiap kita mengejar ilmu itu maka ilmu itu akan semakin bayak. Ibarak ilmu itu
sebuah goa, jadi apabila kita mauk ke dalam goa maka banyak hal yang kita tidak
tau dan dengan demikian kita dapat memanfaatkan masa-masa kita sebagai seorang
pelajar agar kelak apa yan kita pelajari dapat bermanfaat baik bagi kita
sendiri ataupunbagi orang lain yang pastinya untuk pembangunan manusia-manusia
nusa dan bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik dan maju.
Pendengar
Umat Sedharma dimanapun berada
Berikutnya
tingkatan grahastha dalam catur asrama adalah masa berumah tangga. Masa berumah
tangga di sini tidak semata-mata menikah lalu memiliki keturunan, tetapi ada
aturan-aturan yagn patut kita kerhatikan, bahwasannya banyak kasus-kasus di
lingkungan sekitar kita bahwasanya kawin atau nikah dengan dipaksa oleh orang
tua, atau sebalinya kawin tapi tanpa restu ornag tua dan bahkan yang paling
parahnya lagi sebelum menikah sudah mengandung duluan dan akhirnya dengan
terpaska kedua orang tua mau-tidak mau harus menerima kenyataan itu.
Dalam agama
hindu yang tertuang dalam kitab Manawa dharm sastra jenis atau cara perkawinan
ada delapan, salah satunya tadi atas dasar suka orang tua merestui, dan ada
atas dasar kehendak orang tua sehingga anak mengikuti apa kemauan orang tua dan
ada juga dengan cara menculik anak gadis untuk dipasa dinikahi.
Dasar dari
sebuah perkawinan adalah untuk memeiliki keturunan agar kelak ada yang
meneruskan karma dari kedua ornag tua, berikutnya hak dan kedudukan suami isti
dalam pergaulan kehidupan masyarakat, masing-masing berhak untuk melakukan
perbuatan hukum (sesuai aturan), suami sebagai kepala rumah tangga dan isteri
sebagai ibu rumah tangga, suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat
menghormati, dan saling memberikan bantuan secara lahir dan batin.
Dari semua itu
masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsinya atau kewajiban masing-masing,
seperti seorang suami wajib melindungi dan menafkahi anak dan istri, dan lain
sebagainya. Kewajiban seorang istri harus pandai membawa diri dan pandai
mengatur serta memeihara rumah tangga, supaya baik, harmonis dan ekonomis itu
yang pastinya, serta dan lain sebagainnya. Berikutnya kewajiban kita sebagai
anak adalah menghormati dan berbhaktikepada oarang tua dengan berperilaku yang
menyebabkan orang tua senang dan dapat menumbuhkan cinta kasih lebih mendalam.
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Berikutnya
wanaprastha asaram, apa bila jaman dulu seseorang yang menginjak masa
wanaprastha, ia mengasingkan dirikedalam hutan untuk mendapatkan ketenangan
hidup, karena di dalam hutan itu jauh dari pengaruh-pengaruh keduniawian,
sehingga memungkinkan untuk untuk medapatkan kebahagiaan rohani. Tetapi apabila
sekarang hutan sudah mulai punah bahkan sudah rusak karena pembabatan hutan
atau illegal loging, sehingga pohon-pohon besar sudah ditebangi dan kita
tinggal menerima apabila bencana banjir atau longsor, karena pohon-pohon sebagai
penompang itu semua sudah habis di tebangi.
Pendengar umat sedhrama diamnapun berada,
Maksud dari pada
masa wanaprastha asrama adalah kita mulai lepas akan pengaruh keduniawian atau
simplelnya kita tidak lagi mengurusi urusan-urusan yang meyakngkut harta benda.
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Masa terakhir
dalam catur asrama adalah bhiksuka (sanyasin) yagn dalam kesehariannya hanya
meminta-minta dalam artian di sini meminta-minta itu bukan pengemis yang
meminta-minta di lampu merah atua pingir jalan. Meminta-minta di sini adalah
seluruh pikiran dan berbuatannya hanya dicurahkan untuk memuja sang hyang
widhi, sedangkan untuk mempertahankan hidupnya mendapat dari mereka yang
mendambakan rasa kasih saying yang abadi. Karena kemantapan rohaninya para
bhiksu tahan akan panas, dingin dan lapar, serta tidak terikat dnegan indra.
Pendengar
Umat Sedharma yang Berbahagia
Itulah uraian
daripada catur asarama, maka kita sebagai manusia tidak hanya lahir, hidup dan
mati, tetapi dalam hidup kita banyak memeiliki peran serta tanggung jawab untuk
kelangsungan masa depan bangsa serta kelangsungan kelak kita meninggal, karena
kelak kita meninggal tidak membawa harta, rupa yang cantik atau yang lainnya,
melainkan kelak kita meninggal hanya membawa bekal karma perbuatan kita semasa
hidup. Maka mumpung kita diberi umur panjang dan hidup sebagai manusia
hendakknya kita manfaatkan untuk berbuat yang baik atau terbaik untuk kita dan
orang lain, karena kita tidak bias hidup sendiri. Maka kita harus bersifat atau
menjalankan “tat wam asi” “saya adalah kau, kamu adalah saya” maka niscaya
saling menghargai dan menghirmati di dunia ini akan terjalin dan mudah-mudahan
kita terjauhkan dari malapetaka.
Pendengar
Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang
dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang
Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
“Lokasamasta
sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh
isi alam berbahagia
OM SANTIH,
SANTIH, SANTIH OM .
…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar