Rabu, 30 April 2014

PITRA YADNYA



Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah PITRA YADNYA.
……..
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Seperti yang kita ketahui bersama. Pitra yadnya meruapakan sebuah yadnya yang dipersaembahkan kepada leluhur, yang lebih identik dengan orang yang sudah meninggal. Bapak, Ibu, umat sedharma pemahaman tersebut sebenarnya tidak salah, tetapi di dalam sastra pitra yadnya sebenarnya tidak hanya di tujukan kepada leluhur yang sudah meninggal, melainkan anak berbhakti kepada orang tua dan atau orang tua menyayangi anak, itu merupakan wujud daru pitra yandnya.
Perlu kita pahami benar-benar apa sebenarnya yadnya itu. Yadnya merupakan langkah yang diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting, karena yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang yadnya terus menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuana Agung seperti diuraikan dalam yajur weda. Di sampping sebagai pusat terciptanya alam semesta, yadnya juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagawatgita disebut Cakra Yadnya. Jadi kalau cakra yadnya tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran.

Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Upacara agama adalah salah satu bagian dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya. Karena itu kita sebagai manusia yang memiliki moral dan perasaan, maka kita akan merasa berhutang kepada Tuhan, dan untuk menyampaikan rasa berhutnag kita kepada Tuhan, kita sebagai umat Hindu melaksanakan yadnya seperti dewa yadnya sebagai rasa bhakti kita kepada Tuhan, melakukan bhuta yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan, dan kepada leluhur yaitu dengan cara melaksankaan pitra yadnya, dengan wujud mengabdi kepada keturunan, karena keturunan tersebut pada hakekatnya adalah leluhurlah yang menjelma.
Umat sedhrama, pelaksanaan yadnya atau yang sering kita dengan dengan persembahan yang tulus ikhlas tidak lah harus mewah dan megah, melainkan makna dan esensi dari yadnya itulah yang perlu diperhatikan, sehingga pada saat melakukan persembahan kepada Tuhan tidak harus mewan dan megah, serta lebih mementingkan sejauh mana kita melakukan atau keikhlasan persembahan itu, dan tidak boleh memaksakan diri. Contoh saat kita ke pura untuk melaksanakan puja wali atau persembahyangan atau mungkin saat piodalan, kita melihat umat sebagian membawa banten yang mewan dan megah, jadi tidak perlu kita iri atau malah menyaingi dengan perasaan yang ingin bersaing dengan cara memaksakan diri. Jadi makna dan esensi yadnya di dalam sembahyang tersebut tidak lah tersentuh, sehingga yang ada hanya saingan banten, tidak berfikitr saingan berbuat baik atau menabur dharma.

Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Ada sebuah cerita dalam mahabarata. Diceitakan tentang yadnya agung di kurukshetra. Alkisah menceritakan sehabis perang bharatayudha, panca pandawa akan mengadakan upacara aswameda yadnya dalam tingkatan yang utama. Sehingga dengan akan dilaksanakannya upacara besar, berita tersebut menjadi bahan pembicaraan hangat masyarakat Indrhaprasta maupun astinapura. Demikianlah para patih dan parajurit tinggi kerajaan yang lain asik membicarakan keagungan upacara tersebut. Mereka amat bangga dan menyebutkan bahwa tidak akan ada upacara yadnya yang seagung upacara aswameda yadnya. Sedang bangga-bangganya mereka membahas yadnya yang amat megah dan mewah itu. Tiba-tiba muncul seekor tikus. Tikus itu dengan nada sinis mengatakan bahwa aswameda yadnya yang akan diselenggarakan pandawa itu tidak akan menyaingi kehebatan yadnya agung yang pernah disaksikan beberapa waktu yang silam, juga di kurukshetra. Tikus yang nyeletuk ditengah-tengah perbincangan para patih adalah tikus unik, karena sebagian tubuhnya berwarna kuning keemasan.
Mendengar penjelasan tikus yang berbulu emas itu, para patih pandawa menjadi kaget. Betapa tidak. Selama ini tidak pernah mendengar ada upacara yadnya di kurukshetra, apalagi yadnya yang maha agung yang mengalahkan kemegahan dan keagungan aswameda yadnya yang diselengarakan pandawa. Dengan suara jelas dan tenang, tikus berbulu emas itu melanjutkan ceritanya. Para patih dan masyarakat yang kebetulan ada di sana mendengar cerita tikus itu dengan penuh perhatian dan terheran-heran.
Tikus yang berbulu emas itu menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu ada empat brahmana yang hidupnya sangat miskin harta benda, keempat brahmana itu terdiri dari seorang ayah dan istrinya serta seorang anak dan menantunya. Keempat brahmana itu sepanjang hari hanya hidup dari mencari sisa-sisa panen padi dan jagung. Pagi-pagi buta, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, keempat brahmana itu sudah pergi mencari sejumput jangung. Mereka baru pulang ketika mentari sudah terbenam ke tempat peraduannya. Begitulah setiap hari, brahmana itu hanya mengandalkan sisa-sisa panen untuk mengisi perutnya yang ramping. Keempat brahmana itulah yang mengelar yadnya agung di Kurukshetra dengan sarana sejumput tepung jagung.
Pertanyaanya hanya dengan sejumput tepung jagung sudah bisa mengelar yadnya agung? Tanpa memberi kesempatan pendengarnya berkomentar, tikus yang aneh bin ajaib itu menuturkan kisah brahmana tadi dengan lengkap.
Pada suatu hari, keempat brahmana itu mencari sisa-sisa panen jagung yang baru kemarinnya dipetik oleh pemilik kebun. Petani jagung itu rupanya sagat cermat memanen jagungnya, sehingga hampir tidak ada jagung yang masih menempel di batangnya. Namun keempat brahmana itu akhirnya mendapat juga memungut sisa-sisa jagung yang sudah dipanen. Tentu saja jumlahnya amat sedikit. Setelah ditumbuk, jadilah sejumput tepung.
Tepung itu kemudian dimasak jadi bubur lalu dibagi rata. Sebelum menikmati bubur jagung itu, tidak lupa pula mereka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas AnugrahNya. Begitu keempat brahmana tadi akan menikmati bubur, datanglah seorang Brahmana tua, badanya kurus kering. Hanya kulit yang membalut tulang. Brahmana itu mengaku sangat lapar dan menderita sakit. Mengaku sudah lama tidak makan, brahmana itu memohon bantuan kepada keempat Brahmana yang miskin tadi, sudi kiranya memberi makanan untuk mengobati sakitnya. Keempat brahmana miskin itu dengan penuh keikhlasan dan penuh kasih, menyodorkan bubur jangung yang sebenarnya sudah siap dimakan. Begitu bubur jagung diserahkan, sebagian makanan itu jatuh dan kebetulan menimpa seekor tikus yang kebetulan berada dibawahnya, karena kethulus ikhlasan yang demikian tinggi melatar belakangi persembahan itu maka tubuh tikus yang terkena tepung jagung tadi menjadi emas seketika. Setelah menikmati bubur jangung tersebut, maka Brahmana itu sembuhlah dari penyakitnya dan selanjutnya menghilang. Kemudian terdengarlah suara gaib, bahwa berkat keagungan yadnya itu, maka keempat brahmana miskin tadi mendapat tempat yang utama di sorga. Suara gaib itu tidak lain dari sapda Dewa Siva. Beliaulah yang menjelma menjadi Brahmana sakit kelaparan untuk menguji keempat Brahmana miskin tadi. Demikianlah ukuran yadnya yang agung.
Keagungan yadnya dalam bentuk persembahan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulus ikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan yadnya.
Setelah tikus berkulit emas selesai menjelaskan yadnya agung di kurukshetra itu, barulah patih panca pandawa memahami betul arti keagungan suatu yadnya. Letak keagungannya adalah pada keikhlasan.
.
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Arti dari yadnya adalah bukan kemewahan atau kemegahan, tetapi makna dan esensinya adalah tulus ikhlas persembahan itu.
Jadi persembahan yang tulus dan ikhlas kepada pitra yadnya tidak hanya kepada leluhur yang sudah meningal, melainkan kepada sesama, bagaikan empat brahmana memberikan bubur jagung kepada brahmana yang sakit, itu merupakan salah satu dari persembahan kepada pitra yadnya dan sekaligus kepada Rsi yadnya atau Dewa yadnya.
            Dalam kitab Taiterya Upanisad disebutkan sebagai berukut:
Pittri dewa bawa
Maittri dewa bawa
Artinya:
            Ayah adalah perwujudan dewa (dalam keluarga)
            Ibu adalah perwujudan dewa (dalam keluarga)
Kemikian dikatakan dalam sloka di atas adalah, ayah dan ibu adalah dewa

Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Jelas bahwasanya sebuah yadnya tidak diukur dari jumlah, kemewahan, atau keagungan atau dan lain sebagainnya, melainkan yang Nampak dari sebuah yadnya adalah sebuah persembahan yang tulus iklas dan tanpa pamrih. Itulah yang menjadi dasar dari pada yadnya.oleh karena itu kemada seluruh umat manusia dan khususnya umat hindu dimanapun berada hendaknya kita beryadnya tidak harus mahal atau mewah tetapi ketulusan itulah yang paling utama.

Pendengar Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
 Lokasamasta sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
…………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar