Om Swastyastu,
Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga
pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia,
puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME),
karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang
disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah PITRA YADNYA.
……..
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia,
Seperti
yang kita ketahui bersama. Pitra yadnya meruapakan sebuah yadnya yang
dipersaembahkan kepada leluhur, yang lebih identik dengan orang yang sudah
meninggal. Bapak, Ibu, umat sedharma pemahaman tersebut sebenarnya tidak salah,
tetapi di dalam sastra pitra yadnya sebenarnya tidak hanya di tujukan kepada
leluhur yang sudah meninggal, melainkan anak berbhakti kepada orang tua dan
atau orang tua menyayangi anak, itu merupakan wujud daru pitra yandnya.
Perlu kita
pahami benar-benar apa sebenarnya yadnya itu. Yadnya merupakan langkah yang
diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting, karena yadnya
adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda.
Pemeliharaan kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang yadnya
terus menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian yadnya adalah pusat
terciptanya alam semesta atau Bhuana Agung seperti diuraikan dalam yajur weda.
Di sampping sebagai pusat terciptanya alam semesta, yadnya juga merupakan
sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagawatgita
disebut Cakra Yadnya. Jadi kalau cakra yadnya tidak berputar maka kehidupan ini
akan mengalami kehancuran.
Pendengar
Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Upacara
agama adalah salah satu bagian dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar
pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini
berdasarkan yadnya. Karena itu kita sebagai manusia yang memiliki moral dan
perasaan, maka kita akan merasa berhutang kepada Tuhan, dan untuk menyampaikan
rasa berhutnag kita kepada Tuhan, kita sebagai umat Hindu melaksanakan yadnya
seperti dewa yadnya sebagai rasa bhakti kita kepada Tuhan, melakukan bhuta
yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan, dan kepada leluhur yaitu dengan
cara melaksankaan pitra yadnya, dengan wujud mengabdi kepada keturunan, karena
keturunan tersebut pada hakekatnya adalah leluhurlah yang menjelma.
Umat sedhrama, pelaksanaan yadnya atau
yang sering kita dengan dengan persembahan yang tulus ikhlas tidak lah harus
mewah dan megah, melainkan makna dan esensi dari yadnya itulah yang perlu
diperhatikan, sehingga pada saat melakukan persembahan kepada Tuhan tidak harus
mewan dan megah, serta lebih mementingkan sejauh mana kita melakukan atau
keikhlasan persembahan itu, dan tidak boleh memaksakan diri. Contoh saat kita
ke pura untuk melaksanakan puja wali atau persembahyangan atau mungkin saat
piodalan, kita melihat umat sebagian membawa banten yang mewan dan megah, jadi
tidak perlu kita iri atau malah menyaingi dengan perasaan yang ingin bersaing
dengan cara memaksakan diri. Jadi makna dan esensi yadnya di dalam sembahyang
tersebut tidak lah tersentuh, sehingga yang ada hanya saingan banten, tidak
berfikitr saingan berbuat baik atau menabur dharma.
Pendengar
Umat Sedharma yang Berbahagia
Ada sebuah
cerita dalam mahabarata. Diceitakan tentang yadnya agung di kurukshetra.
Alkisah menceritakan sehabis perang bharatayudha, panca pandawa akan mengadakan
upacara aswameda yadnya dalam tingkatan yang utama. Sehingga dengan akan
dilaksanakannya upacara besar, berita tersebut menjadi bahan pembicaraan hangat
masyarakat Indrhaprasta maupun astinapura. Demikianlah para patih dan parajurit
tinggi kerajaan yang lain asik membicarakan keagungan upacara tersebut. Mereka
amat bangga dan menyebutkan bahwa tidak akan ada upacara yadnya yang seagung
upacara aswameda yadnya. Sedang bangga-bangganya mereka membahas yadnya yang
amat megah dan mewah itu. Tiba-tiba muncul seekor tikus. Tikus itu dengan nada
sinis mengatakan bahwa aswameda yadnya yang akan diselenggarakan pandawa itu
tidak akan menyaingi kehebatan yadnya agung yang pernah disaksikan beberapa
waktu yang silam, juga di kurukshetra. Tikus yang nyeletuk ditengah-tengah
perbincangan para patih adalah tikus unik, karena sebagian tubuhnya berwarna
kuning keemasan.
Mendengar
penjelasan tikus yang berbulu emas itu, para patih pandawa menjadi kaget.
Betapa tidak. Selama ini tidak pernah mendengar ada upacara yadnya di
kurukshetra, apalagi yadnya yang maha agung yang mengalahkan kemegahan dan
keagungan aswameda yadnya yang diselengarakan pandawa. Dengan suara jelas dan
tenang, tikus berbulu emas itu melanjutkan ceritanya. Para patih dan masyarakat
yang kebetulan ada di sana mendengar cerita tikus itu dengan penuh perhatian
dan terheran-heran.
Tikus
yang berbulu emas itu menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu ada empat
brahmana yang hidupnya sangat miskin harta benda, keempat brahmana itu terdiri
dari seorang ayah dan istrinya serta seorang anak dan menantunya. Keempat
brahmana itu sepanjang hari hanya hidup dari mencari sisa-sisa panen padi dan
jagung. Pagi-pagi buta, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, keempat
brahmana itu sudah pergi mencari sejumput jangung. Mereka baru pulang ketika
mentari sudah terbenam ke tempat peraduannya. Begitulah setiap hari, brahmana
itu hanya mengandalkan sisa-sisa panen untuk mengisi perutnya yang ramping.
Keempat brahmana itulah yang mengelar yadnya agung di Kurukshetra dengan sarana
sejumput tepung jagung.
Pertanyaanya
hanya dengan sejumput tepung jagung sudah bisa mengelar yadnya agung? Tanpa
memberi kesempatan pendengarnya berkomentar, tikus yang aneh bin ajaib itu menuturkan
kisah brahmana tadi dengan lengkap.
Pada
suatu hari, keempat brahmana itu mencari sisa-sisa panen jagung yang baru
kemarinnya dipetik oleh pemilik kebun. Petani jagung itu rupanya sagat cermat
memanen jagungnya, sehingga hampir tidak ada jagung yang masih menempel di
batangnya. Namun keempat brahmana itu akhirnya mendapat juga memungut sisa-sisa
jagung yang sudah dipanen. Tentu saja jumlahnya amat sedikit. Setelah ditumbuk,
jadilah sejumput tepung.
Tepung
itu kemudian dimasak jadi bubur lalu dibagi rata. Sebelum menikmati bubur jagung
itu, tidak lupa pula mereka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas AnugrahNya.
Begitu keempat brahmana tadi akan menikmati bubur, datanglah seorang Brahmana tua,
badanya kurus kering. Hanya kulit yang membalut tulang. Brahmana itu mengaku
sangat lapar dan menderita sakit. Mengaku sudah lama tidak makan, brahmana itu
memohon bantuan kepada keempat Brahmana yang miskin tadi, sudi kiranya memberi
makanan untuk mengobati sakitnya. Keempat brahmana miskin itu dengan penuh
keikhlasan dan penuh kasih, menyodorkan bubur jangung yang sebenarnya sudah
siap dimakan. Begitu bubur jagung diserahkan, sebagian makanan itu jatuh dan
kebetulan menimpa seekor tikus yang kebetulan berada dibawahnya, karena
kethulus ikhlasan yang demikian tinggi melatar belakangi persembahan itu maka
tubuh tikus yang terkena tepung jagung tadi menjadi emas seketika. Setelah
menikmati bubur jangung tersebut, maka Brahmana itu sembuhlah dari penyakitnya
dan selanjutnya menghilang. Kemudian terdengarlah suara gaib, bahwa berkat
keagungan yadnya itu, maka keempat brahmana miskin tadi mendapat tempat yang
utama di sorga. Suara gaib itu tidak lain dari sapda Dewa Siva. Beliaulah yang
menjelma menjadi Brahmana sakit kelaparan untuk menguji keempat Brahmana miskin
tadi. Demikianlah ukuran yadnya yang agung.
Keagungan
yadnya dalam bentuk persembahan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk
upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulus ikhlasan dari
orang-orang yang terlibat melakukan yadnya.
Setelah
tikus berkulit emas selesai menjelaskan yadnya agung di kurukshetra itu,
barulah patih panca pandawa memahami betul arti keagungan suatu yadnya. Letak
keagungannya adalah pada keikhlasan.
.
Pendengar
Umat Sedharma dimanapun berada
Arti
dari yadnya adalah bukan kemewahan atau kemegahan, tetapi makna dan esensinya
adalah tulus ikhlas persembahan itu.
Jadi
persembahan yang tulus dan ikhlas kepada pitra yadnya tidak hanya kepada leluhur
yang sudah meningal, melainkan kepada sesama, bagaikan empat brahmana
memberikan bubur jagung kepada brahmana yang sakit, itu merupakan salah satu
dari persembahan kepada pitra yadnya dan sekaligus kepada Rsi yadnya atau Dewa
yadnya.
Dalam kitab Taiterya Upanisad
disebutkan sebagai berukut:
Pittri dewa bawa
Maittri dewa bawa
Artinya:
Ayah adalah perwujudan dewa (dalam keluarga)
Ibu adalah perwujudan dewa (dalam keluarga)
Kemikian
dikatakan dalam sloka di atas adalah, ayah dan ibu adalah dewa
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Jelas bahwasanya
sebuah yadnya tidak diukur dari jumlah, kemewahan, atau keagungan atau dan lain
sebagainnya, melainkan yang Nampak dari sebuah yadnya adalah sebuah persembahan
yang tulus iklas dan tanpa pamrih. Itulah yang menjadi dasar dari pada
yadnya.oleh karena itu kemada seluruh umat manusia dan khususnya umat hindu
dimanapun berada hendaknya kita beryadnya tidak harus mahal atau mewah tetapi ketulusan
itulah yang paling utama.
Pendengar
Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang
dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang
Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
“Lokasamasta
sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh
isi alam berbahagia
OM SANTIH,
SANTIH, SANTIH OM .
…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar