OM SWASTYASTU, Om Avighnam Astu Namo Sidham,
Om anobadrah kratavo yantu visvatah, Saudara pendengar umat Sedharma, berbahagia
sekali malam ini kita dapat
berjumpa kembali dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI
Nabire. Pendengar sedharma marilah kita haturkan Puja dan puji syukur kehadapan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang
Maha Esa), atas segala Asung Kerta Wara Nugraha yang telah Beliau limpahkan
kepada kita semua, Sehingga kita masih diberikan kesempatan dan perlindungan
untuk berjumpa kembali dalam acara ini renungan agama Hindu. Pendengar dan umat
sedharma, Topik Renungan kita malam ini yaitu “TUJUH KEGELAPAN DALAM DIRI
(SAPTA TIMIRA)”, bersama saya Wahyu Diantoro.
……..
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia,
Sapta timira
terdiri dari kata sapta dan timira. Sapta yang artinya tujuh, timira artinya
kegelapan atau kemabukan. Jadi sapta timira adalah tujuh macam kegelapan atau
kemabukan. Demikian orang yang dikuasai oleh kegelapan atau kemabukan akan
berbuat menyimpang dari ajaran agama. Perbuatan yang melanggar hukum akan
membuat orang menjadi sengsara, masyarakat menjadi resah dan terancam. Oleh
karena itu, kegelapan atau kemabukan itu hendaknya dihindari. Orang yang tidak
mabuk atau gelap oleh sapta timira maka ia disebut orang yang utama dan
bijaksana. Antara lain rupa yang tampan atau cantik, kekayaan, kepandaian,
keturunan atau kebangsawanan, keremajaan, minuman keras, dan keberanian,. Jadi
seseorang yang tidak memamerkan atau memanfaatkan kelebihannya itu untuk
sesuatu yang negatif itulah yang disebut orang yang rendah hati, sehingga
muncul sebuah kalimat/kata mutiara untuk orang yang seperti itu, di katakana
“Rendah Hati Hanya Milik Orang Bijak” kalimat tersebut tidak dapat kita
pungkiri sehingga kodratnya seperti itu.
………………………………
Pendengar
Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Dari pembagian sapta timira, maka yang pertama
adalah surupa. Surupa artinya rupa yang tampan atau yang cantik. Jadi kita
sebagai manusia ciptaan Tuhan dengan berbagai kekurangan, hendaknya kita tidak
sombong dan angkuh karena diberikan sedikit kelebihan. Karena ketampanan dan
kecantikan itu adalah anugrah dari Sang Hyang Widi Wasa (TYME). Anugrah
tersebut patut kita syukuri. Namun, kecantikan dan ketampanan itu tidak kekal,
karena itu semua ada masanya, saat kita masih bayi kita di pandang seorang bayi
yang imut, mulai menginjak remaja dan dewasa kita boleh dikatakan tampan dan
cantik, tetapi saat kita tua pastilah kita akan kriput dan mungkin ompong,
itulah yang dikatakan ketampanan dan kecantikan tidak kekal (abadi).
Namun dengan wajah yang tampan dan cantik
seseorang akan mendapat simpati dari teman-temannya. Apalagi wajah yang tampan
atau cantik itu disertai dengan perilaku dan budi pekerti yang baik. Bila
ketampanan atau kecantikan itu disertai dengan tingkah laku yang tidak benar,
sombong atau angkuh, maka akan mengakibatkan penderitaan. Dan penderitaan yang
diakibatkan bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada dirinya sendiri. Maka
dari itu manfaatkanlah ketampanan dan kecantikan itu dengan wajar dan disertai
perilaku yang baik, sehingga nantinya tidak mencelakakan orang lain maupun
dirinya sendiri.
…………………………………..
Pendengar
Umat Sedharma yang Berbahagia
Berikutnya adalah dhana yang artinya harta
kekayaan. Pertanyaannya, siapasih yang tidak senang dan bahagia apabila
memiliki kekayaan dan mendapatkan kekayaan? Dengan kekayaan akan bisa membawa
kita kemana saja yang kita suka dan mendapatkan apapun yang kita inginkan dan
lain sebagainya. Maka dari itu setiap orang bekerja keras siang dan malam
berlomba-lomba untuk memperoleh kekayaan. Lantas untuk apa kekayaan itu? Maka
kita jawab dengan hati yang suci sesuai dengan ajaran dharma. Sama halnya
dengan kecantikan, Kekayaan itu sifatnya tidak kekal. Dalam ajarna agama Hindu terutama,
kita diajarkan untuk beramal atau berdhana punia. Menolong orang yang tidak
mampu dan membantu pembangunan tempat suci (pura) adalah perbuatan yang mulia.
Orang yang selalu beramal dan berdhana punia hidupnya akan bahagia, dan amalnya
itu untuk bekal mencapai sorga. Tetapi sebaliknya apabila dengan kekayaan, mata
kita buta/terlena dengan kekayaan, maka sebaliknya sengsara dan malapetaka akan
kita dapatkan.
………………………….
Pendengar
Umat Sedharma dimanapun berada
Sapta timira
yang ketiga adalah guna yang artinya adalah kepandaian. Hidup sebagai manusia
penuh dengan pantangan dan tantangan, untuk mengatasinya tentulah sangat
memerlukan kepandaian. Dengan kepandaian hidup akan merasa lebih dan mudah
untuk melaksanakan sesuatu kegiatan. Agama mengajarkan dan menganjurkan kita
untuk terus-menerus belajar dalam hidupnya agar menjadi pandai. Karena orang
pandai akan mampu melepaskan dirinya dari lembah kesengsaraan. Tetapi
sebaliknya apabila kepandaian itu kita gunakan untuk hal-hal yang negatif atau
merugikan dan mencelakakan orang lain, maka kepandaian juga akan mengyengsarakan
dan meghancurkan kita. Seperti orang pandai untuk merakit bom, tetapi salah di
gunakan untuk menghancurkan gedung dan membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa
yang belum tentu berdosa, itulah sebuah kepandaian yang salah digunakan.
Ada sebuah
cerita:
Dikisahkan
raksasa Niwatakawaca adalah raja di Manimantaka. Ia sangat sakti, kesaktiannya
atau kepandaiannya tidak dapat dikalahkan oleh para dewa. Merasa dirinya sakti
dan kuat iapun menjadi angkuh dan sombong. Ia mabuk karena kepandaiannya.
Bahkan Ia ingin menghancurkan sorga loka.
Lalu Dewa Indra mengutus
Arjuna dan Dewi Supraba untuk menyelidiki kesaktian Niwatakawaca. Dewi Supraba adalah
seorang bidadari. Bila mereka berhasil menyelidiki kesaktian Niwatakawaca, maka
Arjuna dengan mudah untuk membunuhnya.
Dewi Supraba lalu
mendatangi Niwatakawaca di istanannya. Dengan tutur kata yang lemah lembut dan
kecantikannya, Dewi Supraba berhasil mengoda Niwatakawaca, dan ia pun jatuh
cinta pada kecantikan Dewi Supraba. Karena mabuk cinta ia pun lupa diri, segala
rahasiannya diceritakan pada Dewi Supraba. Begitu juga dengan rahasia
kesaktiannya yang terletak di pangkal lidahnya ia sebutkan. Setelah rahasiannya
terbongkar dengan mudah Arjuna membunuhnya, maka matilah Niwatakawaca karena
kesaktiannya. Ia mabuk kepandaian dan akhirnya kepandaiannya itu juga yang
membunuhnya.
Dari cerita
tersebut jelas bahwasanya, seharusnya dengan kepandaian kita dapat membedakan
mana yang buruk dan mana yang baik. Sehingga mata kita tidak tertutup oleh
kepandaian yang kita miliki sendiri.
……………………………………….
Pendengar
Umat Sedharma yang berbahagia
Berikutnya yang dapat membuat kita gelap atau
mabuk adalah keturunan, dalam sapta timira dikenal dengan kata kulina. Dengan
keturunan, biasanya kita merasa drajat kita lebih tinggi dan akhirnya
menyebapkan kita angkuh, sombong dan membeda-bedakan pergaulan. Maka dengan
berbuat seperti itu akan menjadikan kita sengsara, karena kita dijauhi oleh
orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu maka janganlah kita
membeda-bedakan dalam bergaul serta jangan angkuh dan sombong bagi kita yang
setatus sosialnya lebih tinggi. Karena dengan begitu kita akan mendapatkan
banyak teman serta disayangi oleh orang-orang di sekitar kita.
……….……………………
Pendengar
Umat Sedharma yang cintai
Perilaku lain yang
membuat kita gelap adalah minuman keras dan keberanian (kemenangan)
minum-minuman keras dapat menyesatkan dan merugikan kita, salah satunya dari
segi kesehatan, oleh karena itu sebaiknya kita hindari ninum-minuman keras dan
kalau bisa kita jauhkan diri dari barang tersebut. Berawal dari situ juga
biasanya seseorang yang merasa dirinya hebat dan kuat sering menyepelekan dan
bertindak kasar terhadap orang lain, karena mengangap dirinya kuat dan tidak
ada yang dapat mengalahkannya. Seperti sebuah cerita yang saya sampaikan tadi sekuat-kuatnya
manusia dan sepintar-pintarnya seseorang yang tidak didasari oleh dharma
(kebaikan/kebenaran) maka pasti akan terkalahkan oleh dharma yang senantiasa
menjunjung tinggi kebaikan dan kebenaran. Itulah kehebatan dan kelebihan sebuah
kekuatan dharma.
………………………………….
Pendengar
Umat Sedharma dimanapun berada
Segala kelebihan yang kita miliki merupakan
anugrah bagi kita, tetapi kelebihan itu dapat berdampak positif atau negatif,
maka marilah kita yang memiliki kelebihan jangan menjadi angkuh dan sombong,
tetapi jadilah padi yang memiliki filosofis semakin berisi semakin merunduk.
Maka niscaya kedamaian dan ketentraman akan kita dapatkan.
……………………………….
Pendengar
Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang
dapat saya sampaikan, semuga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga
Sang hyang Widhi Wasa senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan dan
kebahagiaan lahir bhatin bagi kita semua.
“Lokasamasta
sukhino bhawantu”.
Semoga seluruh
isi alam berbahagia
OM SANTIH,
SANTIH, SANTIH OM .
…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar