OM SWASTYASTU, Om Awignamastu Namo Sidham, Om siddhir astu tat astu svaha, Om Sukham bhavantu,
purnam bhavantu, Manggalam astu, tat astu svaha. Saudara
Sedharma yang berbahagia Selamat
malam dan selamat berjumpa kembali dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu RRI
Nabire. Mengawali jumpa kita malam ini, marilah kita memanjatkan puja dan puji
syukur kehadapan Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa) karena atas
asung kerta wara nugraha-Nya kita dapat
berjumpa kembali dalam acara renungan agama Hindu dengan Topik kita malam ini
yaitu “KEUTAMAAN MANUSIA” bersama saya Wahyu Diantoro.
………………………………..
Saudara Sedharma yang kami muliakan,
Manusia
merupakan mahluk yang tertinggi, diantara mahluk-mahluk yang lainnya yang ada
di dunia ini. Pertanyaannya, kenapa manusia dikatakan mahluk yang paling tinggi
dan utama?, kita pasti paham, karena manusia di bekali lebih diantara
tumbuh-tumbuhan dan binatang. Karena manusia dapat bergerak, berbicara dan
logika. Maka dari itu kita sebagaimanusia yang memiliki logika adalam mengambil
sesuatu maka hendaknya kita harus dapat mengontrol segala aktifitas dan tingkah
laku kita. Atau dalam agama hindu dikenal dengan sebutan, Tri Kaya Parisudha. Tri
kaya parisuda adalah ajaran mendasar bagi umat Hindu. Dan ajaran ini adalah
tuntutan etika moral bagi setiap umat Hindu. Tri kaya PariSudha mengandung arti
tiga perbuatan yang harus disucikan. Ketiga perbuatan
itu meliputi perbuatan melalui pikiran, ucapan dan tindakan yang harus
disucikan. Bila setiap orang melaksanakan ajaran dengan sungguh-sungguh, maka
tidak akan ada degradasi moral maupun kekacauan didunia ini.
Pendengar sedharma yang berbahagia,
Pada jaman
kaliyuga seperti sekarang ini, manusia lebih mengutamakan untuk mengejar
material dari pada spiritual, sehingga terjadi penurunan mental dan moral. Untuk
itu Tri Kaya Parisuda perlu dihayati dan dilakukan serta mengangkat kembali
untuk dijadikan pegangan dan pedoman dalam kita menjalani hidup ini.
Sebenarnya tri
kaya parisuda merupakan sebuah ajaran
yang bersifat universal atau menyeluruh karena ajaran ini mengajak kita agar
selalu berpikir yang baik atau yang disebut (Manacika), berkata-kata atau
berbicara yang baik yaitu (wacika), dan berbuat yang baik adalah (kayika).
Saudara sedharma, Tri Kaya Parisuda bersama dengan
konsep-konsep yang luhur lainnya, telah membentuk insan-insan dengan karakter
atau sifat yang memenuhi persyaratan untuk dapat dipercaya dan diandalkan dalam
kehidupan kita atau manusia dalam sehari-hari. Dalam kenyataan hidup yang serba
matrialistik maka desakan serta hantaman dalam dunia kerja memaksa kita untuk
berbuat yagn merugikan orang lain, baik dari segi pikiran, perkataan dan
perbuatan yang tidak sewajarnya. Serta tidak bisa kita pungkiri bahwasanya
telah terjadi pergeseran moral dan mental yang cenderung mengejar
kebutuhan-kebutuhan duniawi dengan menggunakan jalan pintas, dan akibatnya
pembelajaran ke arah yang salah pada zaman yang lalu, sehingga menumbuhkan
'budaya' KKN yang sampai saat ini sulit kita hidari atau brantas. Disadari atau
tidak, Tri Kaya Parisuda ternyata telah terpinggirkan oleh peruatan atau
pemikiran tersebut.
Pertanyaannya kenapa hal itu bias terjadi. Bias kita lihat
bersama, Ini dapat dilihat dari pelajaran budi pekerti yang telah menghilang
dari kurikulum di sekolah. Demikian juga dengan hilangnya kebiasaan memberi
cerita. Seperti halnya serita tantri sebagai pengantar tidur, seperti yang
dilakukan generasi pendahulu kepada anak cucunya, yang sekarang nyaris tak
pernah terdengar lagi.
Pendengar umat
sedharma yang berbahagia.
Pembelajaran tersebut ternyata telah meniru cara-cara yang
berlaku di zaman kolonial dalam pola hubungan vertikal antara penjajah Belanda,
para raja (terutama di Jawa), dan rakyat indonesia. Jadi penekanan dari atas ke
bawah terjadi represi atau penindasan dalam berbagai bentuk dan berjenjang,
sementara dari bawah ke atas terjadi pemberian upeti dalam berbagai bentuk pula,
hal itu juga terjadi secara berjenjang. sehingga pergeseran moral dan mental
tersebut terjadi secara menyeluruh dan dari jaman ke jaman dan sampai saat ini
hal itu masih terjadi.
Saudara sedharma di manapun berada.
Cara berpikir dibentuk oleh pembelajaran dan pengalaman di
masa lalu, berkembang menjadi pola-pola tertentu yang kemudian tertanam dalam
pikiran bawah sadar. Inilah yang disebut sikap dasar/sikap intrinsik atau mind-set pemahaman
simpelnya adalah pola pikir. Sikap dasar/cara berpikir ini menentukan
kecenderungan pola seseorang dalam berkata-kata maupun berbuat. Jadi, dalam
konsep Tri Kaya Parisuda, berpikir yang baik (Manacika) merupakan komponen yang
paling penting dan bersifat paling sentral yaitu yang paling utama.
...........................................................
Para pendengar dan
umat sedharma.
Sekarang banyak pemimpin, terutama
pemimpin yang menghendaki terjadinya perubahan ke arah yang positif, serta
mendorong berbagai upaya untuk mengubah mind-set dan pola pikir manusia ke arah
yang lebih baik. Mereka sangat sepakat dengan kaidah yang dilontarkan oleh
William James, seorang psikolog terkemuka dari Amerika Serikat, yang menyatakan
bahwa revolusi terbesar generasi sekarang adalah bahwa manusia dapat mengubah
aspek ekstrinsik kehidupannya dengan mengubah sikap intrinsik alam pikirannya.
Artinya bila seseorang ingin mengubah kehidupannya (misalnya dari menderita
menjadi bahagia, dari gagal menjadi sukses, bahkan dari miskin menjadi makmur
atau kaya, dan lain sebagainya), ia harus mulai dengan mengubah cara-cara
berpikir yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya. Pemanfaatan
teknik-teknik dan metode terbaru yang telah membuahkan perubahan-perubahan dan
bermakna dalam skala yang lebih luas, telah menggugah keberanian William James
untuk menyebut perubahan tersebut sebagai revolusi terbesar generasi sekarang.
Saudara sedharma yang saya cintai.
Berpikir yang baik menurut kacamata
lama, mungkin terbatas pada pengertian seperti berpikir positif, berpikir
jernih, bebas dari pikiran kotor, dengki, sirik, dendam, marah dan lain
sebagainya. Sekarang, cakupan pengertian tersebut mungkin sudah harus diperluas
dengan hal-hal yang berkembang, seiring dengan perkembangan zaman. Dalam
konteks berpikir ada beragam variasi yang dapat digunakan untuk memperkaya
pengertian berpikir yang baik tersebut.
Pertama, berpikir dari sudut pandang yang berbeda-beda yang dapat memperluas cara pandang seseorang. Kedua, berpikir berdasarkan fakta menggunakan hukum sebab akibat yang dapat meningkatkan kemampuan dalam melihat berbagai situasi serta memperkirakan berbagai kemungkinan. Ketiga, berpikir secara lateral/kolateral yang dapat mengembangkan kreativitas/daya cipta. Keempat, berpikir bahwa setiap orang diberi anugerah oleh-Nya berupa potensi yang sama, untuk menjadi apa pun yang mereka benar-benar inginkan di kemudian hari. Kelima, berpikir bahwa di dalam pikiran bawah sadar, tersimpan nalar supra atau inteligensia kreatif yang dapat membantu setiap orang mewujudkan cita-citanya. Demikian jelas bahwasanya keutamaan dan kelebihan manusia dalam berfikir, sehingga kita sebagai manusia hendaknya dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat sebuah tali persaudaraan dan perdamaian serta memelihara alam sejagat raya ini agar kita manusia yang memeliki kelebihan dibandingkan makluk hidup yang ada di dunia ini dapat menjalankan ajaran-ajaran agama.
Pertama, berpikir dari sudut pandang yang berbeda-beda yang dapat memperluas cara pandang seseorang. Kedua, berpikir berdasarkan fakta menggunakan hukum sebab akibat yang dapat meningkatkan kemampuan dalam melihat berbagai situasi serta memperkirakan berbagai kemungkinan. Ketiga, berpikir secara lateral/kolateral yang dapat mengembangkan kreativitas/daya cipta. Keempat, berpikir bahwa setiap orang diberi anugerah oleh-Nya berupa potensi yang sama, untuk menjadi apa pun yang mereka benar-benar inginkan di kemudian hari. Kelima, berpikir bahwa di dalam pikiran bawah sadar, tersimpan nalar supra atau inteligensia kreatif yang dapat membantu setiap orang mewujudkan cita-citanya. Demikian jelas bahwasanya keutamaan dan kelebihan manusia dalam berfikir, sehingga kita sebagai manusia hendaknya dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat sebuah tali persaudaraan dan perdamaian serta memelihara alam sejagat raya ini agar kita manusia yang memeliki kelebihan dibandingkan makluk hidup yang ada di dunia ini dapat menjalankan ajaran-ajaran agama.
Pendengar sedharma di manapun berada.
Pertanyaannya Dapatkah hal-hal atau
ajaran-ajaran agama seperti ini digunakan dalam upaya revitalisasi dan
aktualisasi Tri Kaya Parisuda? Pertanyaan yang bersifat masih sangat terbuka
ini mungkin mampu menggugah cendekiawan-cendikiawan Hindu untuk memberi
sumbangan atau kontribusi yang lebih besar bagi perkembangan kehidupan dan
kesejahteraan umat manusia di alam jagat raya ini. Itulah pertanyaan yang harus
kita wacanakan dan kita sosialisasikan agar kita semua dapat saling menghormati
dan menyayangi sesama manusia.
.................................................................
Pendengar umat sedharma yang saya cintai.
Demikian yang bias
saya sampaikan pada kesempatan malam ini, semoga bisa memberi manfaat bagi
kehidupan umat sedharma, akhirnya saya ucapakan selamat berpisah dan kita akan
bertemu kembali di lain kesempatan.
“Om Loka Samasta
sukhino bhawantu”
Ya Tuhan Semoga
seluruh isi alam berbahagia
Om Santih, Santih, Santih Om
…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar